Adaro Andalan (AADI) Serap 'Capex' US$ 243 Juta hingga Kuartal III-2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) telah menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 243 juta per kuartal III-2025. Alokasi dana tersebut digunakan untuk mendukung agenda ekspansi perseroan.
Direktur Keuangan AADI Lie Lukman menjelaskan capex terutama digunakan untuk investasi pembangkit listrik guna menunjang kegiatan industri di Kalimantan Utara, pembelian tongkang, serta pengadaan sarana pendukung pada rantai pasokan. "Realisasi belanja modal tersebut sejalan panduan perusahaan di awal tahun sebesar US$ 250 - US$ 300 juta," kata Lukman di Jakarta, Senin, (22/12/2025).
Baca Juga
Agresif Tambah Kepemilikan di AADI dan MDKA, Saham Saratoga (SRTG) Menarik!
Secara kinerja keuangan, AADI mencatatkan laba bersih pada kuartal III-2024 sebesar US$ 655 juta. Angka ini mengalami penurunan sebanyak 44% secara tahunan (year on year/yoy). AADI juga membukukan pendapatan sebesar US$ 3,6 miliar pada kuartal III-2025 atau turun 11% dibandingkan kuartal III-2024, yang disebabkan penurunan harga batu bara. Laba bersih pada kuartal III-2024 tercatat turun 44% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 655 juta.
Lukman mengatakan, pasar batu bara termal pada 2025 menghadapi tekanan harga di tengah ketersediaan pasokan yang melimpah, seiring peningkatan produksi dari negara-negara pengimpor utama serta penurunan permintaan musiman.
“Meski demikian, batu bara diperkirakan tetap memiliki peran dalam bauran energi global, sejalan meningkatnya kebutuhan energi dalam jangka panjang,” ujar Lukman.
Hingga kuartal III-2025, volume penjualan AADI mencapai 52,69 juta ton dengan nisbah kupas 4,2x. Kinerja tersebut sejalan dengan panduan penjualan perusahaan pada 2025 sebesar 65-67 juta ton batu bara serta panduan nisbah kupas sebesar 4,3x.
Baca Juga
Harga Emas dan Logam Terus Mengilap, Saham INCO hingga AADI Jadi Alternatif Pilihan
Pasar penjualan terbesar selama periode tersebut adalah Indonesia, diikuti Malaysia, India, dan China. Mayoritas pelanggan perusahaan berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan end-user lainnya.
Perusahaan terus berupaya menerapkan tata kelola yang baik, disiplin keuangan, serta meningkatkan produktivitas dan pengendalian biaya di tengah volatilitas pasar.

