Kisah Lo Kheng Hong: Bermula dari Klerek Bank, Menjelma Jadi Investor Tajir
JAKARTA, investortrust.id – Siapa sangka sosok Lo Kheng Hong yang dulunya hanya seorang klerek (karyawan pembantu administrasi) di sebuah bank swasta, bisa menjelma menjadi investor saham nan kaya raya.
Terlahir dari keluarga kurang mampu, selepas SMA tahun 1979 Lo Kheng Hong tidak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. ‘’Orang tua saya tidak punya uang, rumah kami sederhana berukuran 4x10 dengan dinding papan tanpa plafon dan kalau hujan turun kami kebanjiran. Tamat SMA saya langsung bekerja sebagai klerek dengan penghasilan Rp 50 ribu per bulan,’’ tutur Lo Kheng Hong, saat menjadi pembicara di acara sebuah perusahaan agen properti di Surabaya, belum lama ini.
Selama 11 tahun Lo Kheng Hong melakoni pekerjaan sebagai klerek, sampai pemerintah kemudian menerbitkan kebijakan Pakto 88-deregulasi yang memudahkan pendirian bank swasta pada Oktober 1988. Kala itu banyak bank baru muncul.
Salah satu bank mengajaknya bergabung. Lo Kheng Hong masuk sebagai karyawan biasa, kemudian meningkat sebagai kepala cabang dengan upah Rp 1.050.000.
Baca Juga
Dear Investor: Jangan Terusik September Effect, Pantau Saham Blue Chip Murah untuk Bulan Ini
Walau gaji sudah lebih tinggi, Lo Kheng Hong tetap berhemat agar bisa melanjutkan kuliah malam. Masih ada sisa gaji, Lo Kheng Hong mulai menjajal investasi saham. Seiring waktu harga saham Pak Lo terus meningkat dan akhirnya sukses menjadi investor kawakan dengan aset triliunan rupiah.
‘’Tuhan baik sama saya, Tuhan ubah nasib saya yang tidak mungkin menjadi mungkin,’’ kata Lo Kheng Hong.
Sejatinya apa yang diraih Pak Lo, merupakan buah dari kedisiplinan dan kecermatannya membaca kondisi pasar saham. Sebagai seorang karyawan yang mendapat upah bulanan, Pak Lo mengaku sangat disiplin menyisihkan sebagian hasil kerjanya untuk membeli saham.
‘’Pun saat jabatan saya naik dari klerek menjadi kepala cabang dengan gaji lebih tinggi, saya tidak menambah pengeluaran bulanan, agar uang yang bisa saya investasikan di saham makin besar,’’ ujarnya.
Tidak langsung cuan, awal berinvestasi saham Pak Lo mengaku menderita rugi hingga enam kali. Kala itu dia menerapkan strategi beli saham perdana saat perusahaan initial public offering (IPO) dan berniat menjual saham setelah listing di bursa efek. Apa lacur, saham malah turun, sementara sebagai karyawan Pak Lo butuh dana untuk mencukupi kebutuhan hidup. ‘’Ya terpaksa saham saya jual sehingga jadi rugi,’’ katanya.
Baca Juga
Selanjutnya, Pak Lo mulai mencoba strategi lain dengan menjadi sleeping investor. Ternyata tidak mudah! Menurutnya pada tahun 1989 dirinya membeli saham, namun harga terus merosot lantaran suku bunga menanjak, akibat kebijakan uang ketat yang diterapkan Bank Indonesia kala itu.
‘’Harga saham yang turun membuat saya terpaksa menahan diri untuk tidak menjual saham, padahal kala itu istri saya minta beli rumah. Sebab waktu itu kami masih menumpang di rumah tante saya. Namun saya bergeming dan tidak menjual saham saya (untuk membeli rumah),’’ katanya.
Dewi fortuna mulai berpihak ke Pak Lo, saat Gubernur Bank Indonesia JB Sumarlin melonggarkan kebijakan moneter BI yang diterapkan pada tahun 1989 hingga 1993. Kondisi ekonomi makro mulai membaik, inflasi dapat dikendalikan.
Pelonggaran moneter membuat harga saham mulai meningkat bahkan booming, apalagi pemerintah juga menggulirkan kebijakan baru yang membolehkan warga asing transaksi saham di bursa efek dalam negeri.
‘’Sontak harga saham saya melejit, hingga akhirnya saya bahkan mampu membeli rumah secara tunai di Green Garden-sebuah kompleks perumahan elit di Jakarta Barat,’’ katanya.
Baca Juga
Wall Street Menggeliat Awal September, Indeks Dow Jones Menguat 0,33%
Padahal dulu dia dan istri tidak pernah bermimpi punya rumah di Green Garden. ‘’Target kami saat itu hanya bisa beli rumah dengan KPR di sebuah perumahan sederhana di Kosambi. Tapi Tuhan baik, yang tadinya tidak dimimpikan malah jadi kenyataan,’’ ujarnya.
Sejak itu Pak Lo makin mantap berinvestasi di pasar saham, terlebih dirinya mendapat inspirasi dari Warrent Buffet yang lebih dulu membuktikan bahwa, investasi di pasar saham bisa membuat seseorang menjadi kaya raya, bahkan terkaya di dunia.
‘’Saya membaca kisah Warran Buffett dari buku, ilmu Warren Buffett saya terapkan, dan itu menjadi satu-satunya ilmu yang saya gunakan hingga saat ini,’’ katanya.
Menurutnya, trik utama bagi investor adalah membeli saham bagus pada saat harganya murah. Dia mengibaratkan mobil Mercy yang dijual seharga Bajaj. ‘’Ada banyak saham Mercy yang harganya seperti Bajaj. Untuk menemukannya kita butuh ketelitian dan harus banyak membaca, terutama laporan keuangan perusahaan,’’ ujarnya.
Dia mencontohkan, sebelum memutuskan membeli saham PT Intiland Development Tbk (DILD), dia menghitung nilai aset serta total landbank yang dimiliki emiten properti tersebut. ‘’Saya hitung total aset yang dimiliki mencapai Rp 20 triliun, sementara harga sahamnya di pasar Rp 147 sehingga kapitalisasinya hanya Rp 1,5 triliun. Artinya saya beli saham itu diskon 90%,’’ ujarnya.
Pak Lo mengaku juga dibuat banyak uang dari saham PT Indika Energy Tbk, serta saham-saham Panin Group, karena saat dibeli, saham – saham tersebut sangat murah dan terus mengalami kenaikan dalam tempo beberapa tahun. ‘’Waktu menjual saham saya di PT Petrosea Tbk (PTRO) dan INDY, direkening saya masuk uang sebesar Rp 1 triliun,’’ katanya.

