Volume, Nilai Transaksi, hingga Kenaikan Harga Saham BUMI kembali Mendominasi, Bagaimana Targetnya?
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali perkasa pada perdagangan Kamis (11/12/2025). Nilai transaksi dan volume transaksi saham ini masih menduduki peringkat teratas pada sesi I hari ini.
Hingga pukul 11.18 WIB, saham BUMI berhasil catatkan kenaikan 14,11% ke level tertinggi baru sejak tahun 2018 menjadi Rp 374. Bahkan, kenaikan harga saham BUMI dalam lima hari terakhir telah lebih dari 51% dan lebih dari 230% selama tiga bulan terakhir.
Kenaikan harga tersebut menjadikan kapitalisasi pasar saham emiten batu bara yang dikendalikan Barkrie Group ini melesat menjadi Rp 138,13 triliun. BUMI menjadi saham emiten batu bara dengan kenaikan harga paling pesat dalam tiga bulan terakhir.
Baca Juga
Perkuat Portofolio Non-Batu Bara, Bumi Resources (BUMI) Umumkan Akuisisi Baru Tahun Depan
Sebelumnya, Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan bahwa potensi masuknya saham BUMI dalam daftar Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia Index pada Februari 2026 menjadi sorotan pasar. Ekspektasi tersebut menguat, seiring lonjakan harga dan likuiditas saham BUMI dalam beberapa bulan terakhir.
Dia mengatakan, narasi masuknya BUMI ke MSCI bukan lagi sekadar rumor, tetapi telah bertumpu pada perhitungan kapitalisasi pasar berbasis free float, metrik utama penilaian MSCI. “Dengan struktur kepemilikan publik yang membaik serta likuiditas yang meningkat, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan BUMI naik kelas ke panggung global,” ujar Hendra.
Hendra juga mencermati derasnya arus dana asing. Investor asing tercatat membukukan net buy sekitar Rp 520 miliar dengan volume transaksi mencapai 1,8 miliar saham. “Lonjakan likuiditas dan aliran dana asing menunjukkan bahwa BUMI mulai diposisikan bukan hanya sebagai saham trading, tetapi sebagai kandidat investasi struktural yang tengah diuji kelayakannya oleh pasar global,” tuturnya.
Baca Juga
BUMI dan BRMS Bawa Reli Saham Grup Bakrie hingga Peluang Revaluasi Harga
Meski demikian, Hendra menegaskan bahwa proses masuk MSCI menuntut konsistensi harga, kapitalisasi pasar, dan likuiditas. Volatilitas jangka pendek tetap mungkin terjadi setelah lonjakan berbasis ekspektasi.
Namun jika BUMI mampu bertahan di atas ambang harga kelayakan hingga periode evaluasi MSCI, peluang konfirmasi semakin besar. “Dalam skenario itu, bukan tidak mungkin BUMI kembali diperdagangkan di kisaran Rp 500,” ungkapnya.
Secara historis, level tersebut bukan area baru bagi BUMI. Jika benar masuk MSCI, aliran dana pasif dari ETF dan reksa dana indeks global berpotensi menciptakan permintaan struktural yang menopang harga saham dalam jangka panjang. “Dana pasif biasanya masuk bertahap namun konsisten, sehingga dapat menjaga harga di level yang lebih tinggi,” tutup Hendra.

