Allianz: Investor Global Apresiasi Langkah Transisi ESG oleh Emiten, Peluang Besar bagi Perusahaan Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - President Director Allianz Global Investors Indonesia, Aliyahdin (Adi) Saugi menegaskan bahwa investor global tidak lagi melihat ESG secara hitam-putih. Pendekatan baru yang kini diapresiasi adalah ESG transition, yakni kemampuan perusahaan menunjukkan komitmen dan peta jalan yang jelas menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Disampaikan pria yang akrab disapa Adi ini, banyak perusahaan Indonesia, termasuk yang bergerak di sektor batu bara dan CPO, berada pada tahap transisi ESG yang penting. “Mungkin di Indonesia banyak investor asing itu melihat Indonesia itu adalah seharusnya masih dalam masa transisi,” ujarnya dalam ajang CEO Networking 2025 di Hotel St. Regis Jakarta pada Selasa (18/11/2025).
Menurutnya, pergeseran pendekatan ESG ini membuka peluang besar karena investor global mulai menerima perusahaan yang sedang berbenah, bukan hanya yang sudah sepenuhnya memenuhi standar ESG ketat.
Ia mencontohkan salah satu perusahaan batu bara nasional yang berhasil menarik minat investor setelah mendengarkan masukan untuk memperkuat proses transisi ESG. Perusahaan tersebut melakukan divestasi unit usaha yang dinilai non-ESG dan memisahkannya dari aktivitas bisnis utama yang lebih ramah lingkungan. Langkah tersebut terbukti efektif karena setelah perubahan struktur bisnis dan perbaikan proses internal, semakin banyak investor yang masuk. “It works,” tegas Adi, menyatakan bahwa investor kini memberikan apresiasi pada upaya transisi yang kredibel.
Selain isu ESG, Adi juga menyoroti dinamika arus modal di kawasan Asia Tenggara. Data menunjukkan adanya peningkatan signifikan institutional capital flows ke ASEAN sejak 2019 hingga 2024, dengan pertumbuhan FDI mencapai 6,8% secara CAGR.
Singapura mencatat pertumbuhan 7,4%, Thailand 21%, dan Malaysia 14%, sementara Indonesia relatif stagnan meski tetap menjadi tujuan FDI terbesar di kawasan. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar FDI Indonesia masih terfokus pada sektor hilirisasi, sedangkan negara-negara lain telah bergerak ke sektor teknologi, manufaktur, dan data center yang lebih diminati investor global.
Baca Juga
Adi menekankan bahwa untuk menarik lebih banyak investasi, Indonesia memerlukan kebijakan yang jelas, konsisten, dan transparan. Ketidakpastian kebijakan, kurang efisiennya penyelesaian sengketa, serta perlunya perlindungan dari perubahan kebijakan mendadak menjadi faktor penting yang harus diperbaiki. Stabilitas makroekonomi juga harus dijaga agar Indonesia tidak kehilangan momentum arus modal yang saat ini kuat mengarah ke ASEAN.
Dalam kesempatan tersebut, Adi turut menyoroti kondisi pasar modal Indonesia. Meski IHSG telah berada di atas level 8.000, kinerja indeks LQ45 justru stagnan sejak 2020. Ia menyebut bahwa hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kenaikan indeks dengan fundamental pertumbuhan laba. EPS growth Indonesia dalam lima tahun terakhir cenderung datar, bahkan turun dalam beberapa periode, dan hal ini tercermin pada pergerakan LQ45 yang relatif tidak berkembang. Fenomena ini membuat investor, termasuk manajer aset global, semakin berhati-hati dalam melakukan alokasi portofolio.
Adi menutup pemaparan dengan menekankan bahwa momentum transisi ESG merupakan kesempatan besar bagi perusahaan Indonesia untuk mengakselerasi daya tariknya di mata investor global. “Kita harus mengambil kesempatan bahwa sekarang globally ESG itu juga meng-appreciate apabila perusahaan-perusahaan melakukan ESG transition,” ujarnya.

