BUMI dan BRMS Bawa Reli Saham Grup Bakrie hingga Peluang Revaluasi Harga
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Reli saham-saham Grup Bakrie dalam sepekan terakhir mencuri perhatian di tengah pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang cenderung sideways. Penguatan tersebut ditopang sejumlah faktor mulai adanya perbaikan neraca keuangan hingga reformasi bisnis emiten-emiten grup tersebut.
Penguatan tertinggi saham emiten Bakrie dimotori PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dengan kenaikan lebih dari 50% dalam sebulan terakhir. Penguatan juga melanda saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), hingga PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).
Baca Juga
Diversifikasi ke Tambang Emas, Saham Bumi Resources (BUMI) Direvisi Naik ke Rp 300
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menegaskan bahwa penguatan tersebut bukan sekadar euforia jangka pendek. “Ada kombinasi strategic sentiment, aliran modal asing signifikan, dan ekspektasi restrukturisasi besar di dalam grup,” ujarnya kepada investortrust.id, Kamis (13/11/2025).
Menurut Hendra, faktor yang paling mengubah persepsi pasar adalah masuknya Salim Group melalui Mach Energy Hongkong Limited, yang kini menguasai hampir 46% saham BUMI. “Langkah ini mengubah citra BUMI menjadi bagian dari konglomerasi besar dengan jaringan bisnis dan permodalan kuat,” jelasnya.
Masuknya investor global seperti China Investment Corporation (CIC), UBS, Vanguard, dan Dimensional Fund Advisors juga meningkatkan kredibilitas BUMI di mata investor internasional. “Sinergi modal domestik dan global menjadi fondasi kepercayaan baru bahwa Grup Bakrie tengah bertransformasi menjadi kekuatan energi dan sumber daya alam regional di Asia,” kata Hendra.
Baca Juga
Masuk MSCI Large Cap, Saham Bumi Resources (BRMS) Ditargetkan Menuju Level Ini
Tak hanya itu, dia mengatakan, asing mulai melirik saham emiten grup Bakrie, seperti net buy sekitar Rp 530 miliar di BUMI dan Rp 143 miliar di BRMS. Hendra menilai ini sebagai tanda fase akumulasi terencana. “Pasar mulai menilai ulang valuasi emiten Grup Bakrie yang memasuki fase restrukturisasi dan ekspansi bisnis,” ujarnya.
Ekspansi Jadi Katalis
Hendra mengatakan, salah satu pendorong prospek Grup Bakrie adalah rencana ekspansi BUMI ke sektor bauksit dan alumina. Perusahaan berencana mengakuisisi 45% saham PT Laman Mining dari PT Supreme Global Investment senilai US$ 59,1 juta atau sekitar Rp 985 miliar. Langkah ini dinilai sebagai strategi diversifikasi di luar batu bara dan sejalan dengan hilirisasi mineral nasional.
Indonesia memiliki cadangan bauksit signifikan di Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau. Proyek ini berpotensi memperluas rantai bisnis BUMI hingga produksi alumina dan aluminium. Sejalan dengan itu, BRMS juga terus memperluas ekspansi tambang emas di Australia, menegaskan arah transformasi Grup Bakrie menuju portofolio mineral yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Baca Juga
Pendapatan dan Laba Bersih Energi Mega (ENRG) Kompak Naik Segini
Keberlanjutan reli saham Grup Bakrie akan bergantung pada realisasi transformasi fundamental di masing-masing entitas. “Mulai dari efisiensi produksi batu bara BUMI, monetisasi aset emas BRMS, hingga pengembangan energi terbarukan oleh VKTR dan ENRG,” kata Hendra.
Jika momentum reformasi dan tata kelola terjaga, valuasi saham-saham Grup Bakrie berpotensi mengalami re-rating struktural. Dari sisi teknikal, Hendra memasang target harga saham BUMI menuju Rp 250–300, saham BRMS mengarah ke Rp 1.160, DEWA berpotensi menguji all-time high Rp 488, ENRG menargetkan area Rp 1.090, dan VKTR menarik dengan target psikologis Rp 500.

