Saham ‘Bluechips Old-School’ Ditinggal Investor Asing, Ini Penyebabnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing mencatatkan nett sell Rp 1 triliun di Pasar Modal Indonesia pada penutupan perdagangan kemarin, Kamis (26/9/2025). Angka ini merupakan selisih dari foreign buy Rp 8,49 triliun dan foreign sell Rp 9,5 triliun hari itu.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, salah satu saham perbankan yang terbanyak dilepas asing kemarin adalah BBCA dengan total Rp 222,1 miliar pada harga rata-rata Rp 7.719.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memandang, ‘kaburnya’ investor asing dari saham perbankan adalah pergerakan harga saham yang tidak sejalan dengan tren kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Menurut dia, pergerakan harga saham-saham LQ45 ‘keteteran’ dalam mengejar pertumbuhan IHSG, yang hampir mencapai 15% dibanding awal tahun (ytd). Lambatnya pergerakan harga saham-saham LQ45 turut dipengaruhi saham bank besar, seperti BBCA, BBRI, dan BMRI yang justru menjadi beban indeks.
“Asing keluar di nama-nama bank besar atau bluechips old school,” ungkap Liza melalui pesan singkat, Jumat (26/9/2025).
Sementara itu, dia menilai bahwa saham yang sedang menjadi bintang panggung akhir-akhir ini, justru berada di luar LQ45. Nama-nama konglomerasi baru seperti Barito Group, meliputi saham BRPT, BREN, CUAN, TPIA, dan DSSA; Salim Group dengan AMMN, atau PANI dengan proyek PIK 2, sampai data center DCII malah membuat IHSG atraktif.
“Narasinya lagi laku keras, yaitu MSCI, transisi energi, green energy atau ESG, hilirisasi nikel, properti superblok, hingga digitalisasi. Semua tema ‘kekinian’ ada di mereka,” jelasnya.
Baca Juga
IHSG Akhir Pekan Ditutup Melesat 0,73%, Sebanyak 13 Saham Cetak ARA Dipimpin TOSK dan KOKA
Hal itu membuat jarak (gap) pertumbuhan IHSG dan LQ45 semakin terlihat. Liza menilai, pelaku pasar sedang fokus berinvestasi di saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar. Bukan lagi di saham blue chips yang sudah terkenal sejak dulu namun sedang memiliki tantangan tersendiri saat ini.
“Ke depan, peluang LQ45 buat rebound tetap ada. BI (Bank Indonesia) sudah mulai menurunkan suku bunga, yang seharusnya membuat bank besar mulai bergerak,” imbuh dia.
Sedangkan kucuran likuiditas Rp 200 triliun yang diinisiasi Menteri Keuangan Purbaya, menurut Liza baru menghasilkan respons pasar sesaat. Rapor sesungguhnya yang ditunggu investor adalah pertumbuhan penyaluran kredit perbankan di akhir tahun.
“(Sektor) telekomunikasi dan konsumsi juga bisa balik dicolek kalau Rupiah tenang dan asing balik masuk. Tetapi tidak bisa dimungkiri spotlight sekarang bukan di mereka, tetapi di new movers tadi,” sambungnya.
Sebagai strategi investasi, Kiwoom Sekuritas Indonesia pun berpendapat bahwa investor dapat memiliki saham bank LQ45 untuk jangka menengah. Namun tidak boleh menutup diri dari saham-saham konglomerasi baru yang sedang tren.
“Karena kala bluechips old-school tiarap going nowhere, merekalah yang lagi bawa likuiditas dan mood pasar sekarang,” tandas Liza.
Di sisi lain, dia memperkirakan bahwa investor asing juga sebenarnya sudah masuk membeli saham-saham konglomerasi Indonesia namun dengan porsi kecil. Sebab, manajer investasi atau investor institusi dengan pendanaan besar, cenderung lebih berhati-hati (prudent) dan menghindari saham yang valuasinya terlalu tinggi.

