IHSG Diproyeksikan Masih Uptrend, Saham BRMS hingga SCMA Jadi Incaran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan ini, Senin (22/9/2025) diproyeksikan akan menguji area resistance di kisaran 8.100-8.200.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai apabila level ini berhasil ditembus, peluang penguatan lanjutan terbuka.
“Namun, jika tekanan jual kembali muncul, support terdekat berada di 7.911-7.862 (MA20), dengan support berikutnya di MA50 sekitar 7.660. Selama indeks bertahan di atas level tersebut, tren kenaikan masih terjaga,” ujar Hendra kepada investortrust.id, baru-baru ini.
Pasar saham Indonesia pada perdagangan Jumat (19/9/2025) kembali ditutup menguat, di tengah tekanan mayoritas bursa Asia yang masih melemah. IHSG ditutup naik 0,53% atau 42,68 poin ke level 8.051, dengan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turut menguat 0,86% ke level 278,5. Arus dana asing menjadi pendorong utama dengan catatan net buy sebesar Rp 1,41 triliun di pasar reguler dan Rp 1,46 triliun di pasar negosiasi.
“Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap prospek pasar domestik, khususnya pada saham sektor industri dan komoditas,” terangnya.
Baca Juga
Jakarta Composite Index Opens Higher, Hits Fresh All-Time High at 8,082
Dari sisi saham, BRMS menjadi bintang dengan lonjakan 17,1% ke level 650 disertai nilai transaksi jumbo Rp1,1 triliun, didorong sentimen ekspansi tambang emas. DSSA 4,5%, BBCA 1,3%, ASII 2,7% dan BRPT 3,4% juga menopang penguatan indeks.
Sebaliknya, saham AMMN 5,0%, BMRI 0,9%, BBNI 1,6%), TLKM 0,6% dan GOTO 1,8% menahan laju kenaikan IHSG. Secara sektoral, industri menjadi motor penggerak utama, sementara sektor properti tercatat sebagai yang paling tertekan.
Untuk perdagangan awal pekan depan, Hendra mengatakan sejumlah saham ini dinilai menarik untuk dicermati. SRTG direkomendasikan buy dengan target Rp 2.090 seiring akumulasi investor, sementara RATU berpotensi melanjutkan tren naik dengan target Rp 6.750.
Dari sektor media, SCMA berpeluang rebound menuju target Rp 370. Adapun BUKA layak diperhatikan sebagai opsi speculative buy dengan target Rp 185, setelah menunjukkan pola teknikal rebound.

