Krakatau Steel (KRAS) Umumkan Pergantian Posisi Sekretaris Perusahaan
JAKARTA, investortrust.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mengumumkan perubahan posisi sekretaris perusahaan dari Pria Utama kepada Mohamad Tantra Maulana, terhitung sejak 1 September 2023.
Dalam keterbukan informasi kepada investor pasar modal, Manajemen KRAS menyampaikan Mohamad Tantra Maulana akan berperan sebagai Pejabat Pelaksana Tugas Sekretaris Perusahaan/Corporate Secretary Perseroan.
‘’Selanjutnya semua korespondensi yang ditujukan kepada Sekretaris Perusahaan/Corporate Secretary PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dialamatkan kepada Mohamad Tantra Maulana,’’ demikian keterbukaan informasi yang dikutip, Selasa (5/9/2023).
Baca Juga
BI Terbitkan SRBI 15 September, Yield Bisa Lebih Tinggi dari SBN
Sebelumnya, KRAS mempublikasikan kinerja semester I-2023 dengan membukukan pendapatan sebesar US$984,63 juta atau setara Rp14,77 triliun dengan EBITDA sebesar US$26,93 juta atau setara dengan Rp403,98 miliar.
“Dari sisi posisi keuangan total aset Perseroan adalah sebesar US$3,02 miliar atau setara Rp45,33 triliun. Krakatau Steel juga mencatatkan peningkatan ekuitas 9% menjadi sebesar US$601,25 juta atau setara dengan Rp9,02 triliun dibandingkan periode Desember 2022 sebesar US$552,59 juta atau setara dengan Rp8,62 triliun,” jelas Direktur Utama Krakatau Steel Purwono Widodo.
Purwono melanjutkan bahwa di Semester I 2023 Subholding PT Krakatau Sarana Infrastruktur memberikan kontribusi laba sebesar US$20 juta meningkat 105% dari sebelumnya sebesar US$10 juta di periode yang sama tahun 2022.
Baca Juga
Harga Anjlok 38,81%, BEI Gembok Saham Telefast Indonesia (TFAS)
Subholding PT Krakatau Baja Konstruksi juga memberikan laba bersih sebesar US$3 juta di periode Semester I 2023 ini.
Krakatau Steel mencatatkan rugi bersih sampai dengan Semester I 2023 sebesar US$37,39 juta atau setara dengan Rp560,88 miliar.
‘’Hal ini terjadi karena Perseroan masih memiliki beban keuangan yang cukup tinggi yaitu sebesar US$59,33 juta atau setara dengan Rp889,89 miliar serta terdapat rugi atas selisih kurs sebesar US$17,77 juta atau setara dengan Rp266,52 miliar,’’ beber Purwono.

