Harga Emas Makin Mahal? Pengamat Ungkap Biang Keroknya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, membongkar biang kerok dibalik tren semakin mahalnya harga emas dunia.
Ibrahim menilai, kondisi harga emas dunia dalam beberapa tahun terakhir sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, perang dagang, dan kebijakan suku bunga global.
Menurutnya, dinamika ini akan terus menjadi penentu utama arah pergerakan emas.
Dalam pemaparannya, Ibrahim menjelaskan bahwa konflik Rusia-Ukraina, eskalasi di Timur Tengah, serta ketegangan antara Iran dan Israel memberi tekanan besar terhadap pasar global.
“Setiap kali terjadi ketegangan geopolitik, harga emas selalu melonjak karena emas dianggap sebagai aset lindung nilai,” jelasnya pada Investortrust Power Talk di Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Selain faktor geopolitik, perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga memberi dampak signifikan. Ibrahim menilai kebijakan Presiden Donald Trump yang agresif dalam perdagangan internasional telah mendorong inflasi dan membuat harga emas melonjak.
Ia menambahkan, intervensi Trump terhadap kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) pada periode sebelumnya menjadi salah satu pemicu lonjakan harga emas. “Bank Sentral AS seharusnya independen, namun intervensi politik membuat pasar bergejolak,” ujarnya.
Baca Juga
Pengamat: Sekarang Waktu yang Tepat Investasi Emas, Ini Alasannya
Di sisi lain, penguatan indeks dolar turut memengaruhi harga emas. Ibrahim memperkirakan indeks dolar berpotensi naik hingga level 112 bila ketidakpastian global terus berlanjut.
Peluang Tembus US$ 3.600 Pada Akhir 2025
Alumnus Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta itu memproyeksi harga emas dunia dapat menembus level US$ 3.600 per troy ounce pada semester kedua 2025. Menurutnya, prediksi ini didukung analisis fundamental dan teknikal yang menunjukkan tren kenaikan harga.
“Harga emas akan bergerak di kisaran support US$ 1.850 hingga resistance US$ 2.150 dalam jangka pendek. Namun, dalam semester kedua 2025, saya optimistis emas bisa mencapai US$ 3.600,” ungkap Ibrahim.
Ia menekankan bahwa kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian menjadi alasan utama emas tetap menarik sebagai instrumen investasi. Faktor lain yang berpengaruh antara lain kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika, perlambatan ekonomi global, serta revisi pertumbuhan ekonomi oleh lembaga internasional seperti OECD dan IMF.
Lebih jauh, Ibrahim menilai investasi emas, baik dalam bentuk logam mulia maupun perhiasan, lebih cocok untuk jangka menengah dan panjang. “Investasi emas tidak akan pernah merugi jika dilihat dalam horizon waktu panjang,” katanya.
Pemerintah Indonesia, tambahnya, juga tengah mendorong pembentukan bullion bank untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi domestik dan mendukung pasar emas nasional.

