Meski Harga Pupuk hingga Bea Ekspor CPO Naik, Saham Perkebunan Masih Menarik!
Poin Penting
● Harga pupuk naik, tapi pasokan masih aman. ● Bea ekspor CPO naik untuk dorong hilirisasi. ● Saham perkebunan tetap menarik, rekomendasi overweight.
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga pupuk global serta penyesuaian bea ekspor minyak sawit mentah (CPO) menjadi sorotan utama sektor perkebunan. Namun, prospek saham emiten sawit tetap positif di tengah berbagai sentimen, sehingga MNC Sekuritas merekomendasikan overweight saham sektor ini.
Analis MNC Sekuritas Raka Junico W mengatakan, sejak awal 2025, harga pupuk menunjukkan tren kenaikan signifikan. Hingga Mei 2025, harga fosfat naik 17,7% (YTD) dan kalium (potash) melonjak 23,9% (YTD). Kenaikan tersebut didorong ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik Iran–Israel, turut menimbulkan kekhawatiran atas gangguan pasokan potash, mengingat Israel penyumbang sekitar 5% dari produksi global.
Baca Juga
Hambatan Non-Tarif Menjadi Masalah Utama Ekspor CPO ke Eropa, Pemerintah Diminta Negosiasi
Meski demikian, pelonggaran ekspor pupuk oleh Tiongkok antara Mei hingga September 2025, mencakup sekitar 3 juta ton fosfat (DAP dan MAP), diharapkan meredam lonjakan harga global. Di sisi lain, pasokan nitrogen (amonia dan urea) domestik Indonesia dinilai cukup untuk menjaga stabilitas biaya produksi.
Di tengah kondisi tersebut, dia mengatakan, investor tetap perlu mewaspadai risiko kenaikan harga minyak global yang bisa berdampak langsung pada kenaikan biaya input.
Pergerakan kinerja keuangan dan harga saham sektor perkebunan juga terpengaruh kebijakan pemerintah setelah menerapkan PMK 30/2025 yang menaikkan bea ekspor CPO menjadi 10% (sebelumnya 7,5% di PMK 62/2024). Sementara itu, produk turunan, seperti RBDPO, olein, dan stearin, dikenakan tarif 7,5% (naik dari 4,5%).
Baca Juga
Optimistis, IEU-CEPA Bisa Buat Indonesia Ekspor CPO ke Eropa
Dengan harga referensi CPO per Juni 2025 sebesar USD 856,4 per metrik ton, bea ekspor berdasarkan regulasi baru setara dengan US$ 85,6/ton, dibanding sebelumnya US$ 64,2/ton.
Menariknya, pemerintah tetap mengakui keabsahan kontrak-kontrak lama yang mengacu pada PMK sebelumnya hingga masa berlakunya habis. Kebijakan ini dinilai mampu mengurangi gejolak jangka pendek dan memberi ruang bagi pelaku usaha untuk beradaptasi.
Kenaikan bea ekspor juga diharapkan mendorong hilirisasi lebih lanjut di dalam negeri, meskipun bisa menekan pertumbuhan harga jual rata-rata (ASP) dalam jangka pendek.
Baca Juga
Industri Sawit Dibayangi Regulasi Tumpang Tindih
Meski menghadapi tantangan biaya dan regulasi, prospek industri sawit tetap menarik. Diproyeksikan rata-rata harga CPO tahun ini di MYR 4.700/ton (naik dari MYR 4.200/ton pada 2024), didukung oleh permintaan yang solid dan faktor musiman cuaca.
Dengan kontrak lama yang masih berlaku, banyak emiten perkebunan diperkirakan dapat memanfaatkan harga referensi yang lebih rendah, memperkuat margin di tengah tekanan biaya input. Oleh karena itu saham sektor perkebunan direkomendasikan overweight dengan dua saham favorit PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.200 per saham dan PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 900 per saham.

