Meski Realisasi 36% hingga Mei, Summarecon (SMRA) Optimistis Marketing Sales Rp 5 Triliun di 2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membidik target marketing sales sebesar Rp 5 triliun hingga akhir tahun 2025. Target ini akan didorong oleh kontribusi dari 9 kawasan Kota Terpadu yang tengah dikembangkan perseroan di berbagai wilayah strategis di Indonesia.
Presiden Direktur SMRA, Adrianto Pitojo Adji, menyampaikan bahwa hingga Mei 2025, Summarecon telah membukukan marketing sales sebesar Rp 1,8 triliun atau setara dengan 36% dari total target tahunan.
Baca Juga
Summarecon (SMRA) Putuskan Dividen Rp 148,57 Miliar, Nilainya per Saham Segini
"Jadi bersyukur marketing sales perseroan di Mei sudah mencapai Rp 1,8 triliun dan paruh 2025 ini masih ada beberapa launching produk, semoga tahun 2025 ini bisa mencapai target Rp 5 triliun,” ujar Adrianto dalam paparan publik secara daring, Kamis, (12/6/2025).
Sebagai catatan, Summarecon mencetak kinerja luar biasa pada tahun 2024. Penjualan properti di kuartal I-2025 saja mencapai Rp 877 miliar, ini mengindikasikan tren positif yang masih berlanjut.
Dalam laporan tahun buku 2024, SMRA mencatatkan pendapatan sebesar Rp 10,62 triliun, melonjak 59,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih pun mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, yakni Rp 1,84 triliun atau tumbuh 74,2% secara tahunan. Pencapaian tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan dari seluruh kawasan Kota Terpadu yang tersebar di Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, Bogor, Bandung, Karawang, Makassar, Crown Gading, dan Tangerang.
Baca Juga
IPO Anak Usaha Summarecon, Presdir SMRA: Antusiasme Tinggi, Kita Lihat Kondisi 'Market'
Unit Pengembangan Properti yang mencakup penjualan hunian dan komersial menyumbang Rp 7,5 triliun pada 2024 melonjak 86% dari Rp 4,04 triliun di tahun sebelumnya. Segmen Investasi Properti dan Manajemen juga mengalami pertumbuhan dengan pendapatan sebesar Rp 2,15 triliun, sebagian besar berasal dari peningkatan sewa pusat perbelanjaan sebesar Rp 388 miliar.
Sementara itu, unit bisnis lain seperti perhotelan turut mencatatkan pertumbuhan. Pendapatan dari segmen ini meningkat menjadi Rp 967 miliar, naik 10% dibandingkan tahun sebelumnya, berkat tingkat okupansi dan tarif kamar yang lebih tinggi.

