Laba Melonjak 94,3%, Bumi Serpong Damai Pertahankan Momentum Pertumbuhan
Oleh M Rudy Setiawan,
Research Analyst PT MNC Sekuritas (MNCS)
INVESTORTRUST.ID - PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menunjukkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2024, dengan mencatatkan pendapatan Rp 13,8 triliun, tumbuh 20% dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp 11,5 triliun. Revenues ini mencapai 110% perkiraan pendapatan tahun 2024 oleh MNCS dan konsensus pasar.
Segmen residensial tercatat menjadi kontributor utama dengan menyumbang 47% dari total pendapatan, atau sekitar Rp 6,5 triliun. Segmen ini melonjak 41% secara tahunan.
Sebagian besar penjualan rumah tapak berasal dari proyek BSD City. Ini antara lain Tanakayu, Enchante, Yuthica, Blizfield, dan Greenwich, serta dari kawasan Grand Wisata (Bekasi), Kota Wisata (Cibubur), dan Grand City (Balikpapan).
Baca Juga
Penjualan properti komersial mencapai Rp 3,2 triliun atau berkontribusi 23% terhadap total pendapatan, mencatatkan pertumbuhan sebesar 15% secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan signifikan pada penjualan ruko yang tumbuh 28% menjadi Rp 2,2 triliun. Sebaliknya, penjualan apartemen mengalami penurunan sebesar 7% secara tahunan menjadi Rp 995 miliar.
Pendapatan dari ruko sebagian besar ditopang oleh proyek-proyek utama di BSD City, seperti Taman Tekno X dan Northridge Business Center. Sementara pendapatan apartemen berasal dari proyek Southgate Residence dan Aerium.
Di sisi lain, penjualan lahan mengalami penurunan sebesar 24% secara tahunan menjadi Rp 1,84 triliun, dari sebelumnya Rp 2,4 triliun. Kontribusi dari penjualan lahan ini sebesar 13% terhadap total pendapatan tahun lalu.
Margin laba kotor BSDE meningkat menjadi 63,9% pada 2024, naik dari 55,6% di tahun sebelumnya. Ini terutama berkat margin yang lebih tinggi dari penjualan lahan.
Margin laba operasional juga naik dari 25,2% menjadi 32,4%. Hal ini seirama dengan peningkatan margin kotor tersebut.
Seiring dengan itu, beban penjualan mengalami kenaikan sebesar 23,8% secara tahunan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya iklan, promosi, dan komisi.
Sedangkan beban umum dan administrasi melonjak 29,4%. Biaya ini dipengaruhi oleh kenaikan gaji dan biaya terkait teknologi informasi.
Dengan pencapaian tersebut, laba bersih BSDE melonjak 94,3% secara tahunan menjadi Rp 2,3 triliun. Laba mencapai 117,9% dari proyeksi tahun 2024 oleh MNCS dan 123,6% dan konsensus pasar.
Target Marketing Sales Rp 10 Triliun
Memasuki tahun buku 2025, BSDE menargetkan nilai marketing sales Rp 10 triliun, sedikit meningkat dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya Rp9,7 triliun. Ini 2–3% di atas target awal.
Segmen residensial diproyeksikan tetap menjadi penyumbang utama dengan kontribusi sekitar 51% dari total marketing sales. Produk komersial serta penjualan lahan kepada entitas joint venture masing-masing diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 34% dan 15%. Proyek utama yang mendorong penjualan antara lain BSD City dan pengembangan joint venture seperti Nava Park dengan target Rp 700 miliar dan Hiera sebesar Rp 500 miliar, yang akan ditopang oleh peluncuran produk residensial dan komersial terbaru.
Pengembangan township, seperti Grand Wisata seluas 1.080 hektare dengan target marketing sales Rp 950 miliar dan Kota Wisata seluas 921,5 hektare dengan target Rp 350 miliar, juga diharapkan memberikan kontribusi signifikan. Dukungan infrastruktur yang terus dikembangkan di wilayah Jakarta Timur dan Selatan, area di mana BSDE memelihara kehadiran strategisnya, turut memperkuat potensi pertumbuhan.
Baca JugaTeknologi CRISPR Ciptakan Tanaman Produktif Tahan Perubahan Iklim
Kebijakan insentif keringanan pajak pertambahan nilai (PPN) dari pemerintah yang diperpanjang hingga akhir tahun 2025 juga menjadi faktor pendukung kinerja penjualan emiten properti ini. Pemerintah resmi memperpanjang insentif PPN atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun yang Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk tahun anggaran 2025, yang mulai berlaku 4 Februari 2025. Perpanjangan insentif ini merupakan kelanjutan kebijakan insentif PPN yang sebelumnya telah diberikan pada tahun 2023 dan 2024.
Penyerahan rumah tapak atau satuan rumah susun yang dilakukan mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 30 Juni 2025 akan mendapatkan insentif PPN-DTP sebesar 100% atas PPN terutang dari bagian harga jual sampai dengan Rp 2 miliar, dengan harga jual paling tinggi Rp 5 miliar. Sedangkan penyerahan mulai 1 Juli sampai dengan 31 Desember 2025 akan mendapatkan insentif PPN-DTP sebesar 50% atas PPN terutang dari bagian harga jual sampai dengan Rp 2 miliar, dengan harga jual paling tinggi Rp5 miliar.
Insentif keringanan PPN itu khususnya akan membantu penjualan BSDE di proyek Grand Wisata dan apartemen seperti Southgate dan Aerium. Manajemen BSDE menilai kebijakan ini sebagai faktor penting dalam menjaga permintaan pasar.
Sementara itu, setelah akuisisi strategis PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) pada tahun 2024, BSDE memperkirakan tambahan kontribusi sekitar 3% terhadap target penjualan tahun ini, yang berasal dari proyek eksisting SMDM. Ini mencakup Rancamaya dengan target Rp 200 miliar, Royal Tajur sebesar Rp50 miliar, dan Harvest City sebesar Rp 50 miliar.
Untuk mengakselerasi pertumbuhan lebih lanjut, BSDE terus mendorong kemitraan strategis melalui struktur joint venture. Penjualan lahan kepada entitas joint venture diproyeksikan mencapai sekitar Rp1,5 triliun atau 15% dari total target marketing sales, yang mencerminkan strategi ekspansi perusahaan yang efisien dari sisi modal.
Valuasi dan Rekomendasi
Tim Riset MNCS merekomendasikan beli untuk saham BSDE dengan target harga Rp 950. Target harga ini mencerminkan Price to Earnings Ratio (PE) dan Price to Book Value Ratio (PBV) masing-masing sebesar 7,4x dan 0,7x untuk tahun 2025, yang artinya saham diperdagangkan dengan valuasi 7,4 kali dari laba bersihnya dan 0,7 kali dari nilai bukunya. Valuasi emiten dari Grup Sinar Mas ini kami nilai menarik.
Ikhtisar Keuangan Utama BSDE. Sumber: MNCS.
Sedangkan risiko terhadap rekomendasi ini mencakup beberapa faktor utama. Ini antara lain daya beli masyarakat yang rendah, tingkat suku bunga yang masih tinggi, dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

