Inilah Daftar 50 Saham Pemberi Cuan Terbesar Kuartal I-2025, Tak Disangka Saham Pengelolaan Ikan Ini justru Memimpin
JAKARTA, investortrust.id – Meski indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang kuartal I-2025 mencatatkan penurunan terdalam kedua di Asia Pasifik, sebanyak 50 saham ini justru berhasil cetak penguatan yang mengesankan hingga membuat investor kaya raya.
Berdasarkan Datatrust terungkap bahwa tingkat penguatan harga 50 saham tersebut berada dalam rentang 46-721% dalam tiga bulan pertama tahun 2025. Bahkan, satu saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) merangsek masuk dalam daftar top 10 market cap BEI dengan posisi ketujuh setelah saham BBCA, BREN, BYAN, TPIA, BBRI, dan BMRI.
Sedangkan kinerja IHSG BEI sepanjang Januari-Maret 2025 mengalami penurunan sebanyak 8,04% menjadi 6.510, dibandingkan dengan kuartal I-2024 dengan peningkatan 0,22% menjadi 7.288. Hal ini menjadikan penurunan IHSG terburuk kedua di Asia Pasifik dan Dunia, pelemahan tertinggi dicatatkan bursa saham Thailand (SET Index) dengan penurunan 15,16%.
Baca Juga
Sedangkan bursa saham Hang Seng Index tercatat sebagai bursa dengan penguatan tertinggi mencapai 17,54% di Asia pasifik dan WIT Total Return Index Polandia dengan kenaikan 23,9%.
Datatrust mencatat, penguatan harga saham tertinggi dicatatkan saham PT Era Mandiri Cemerlang Tbk (IKAN), perusahaan engolahan dan perdagangan hasil perikanan, mencapai 721% menjadi Rp 197. Kenaikan tersebut menjadikan market cap emiten ini meningkat menjadi Rp 164 miliar. Penguatan tertinggi kedua dicatatkan PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) sebanyak 370% menjadi Rp 531 dengan kapitalisasi pasar Rp 531 miliar.
Kenaikan tertinggi kedua dibukukan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mencapai 370% menjadi Rp 1.800 dengan kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 4,24 triliun. Lompatan saham WIFI mulai terjadi setelah adik kandung Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusomo, mengakuisisi sebagian besar saham ini.
Baca Juga
Jasa Marga: Puncak Arus Balik Lebaran Diperkirakan Terjadi di 5 - 6 April
Keempat dengan torehan terkuat dicatatkan saham PT Tira Austenite Tbk (TIRA) dengan kenaikan 311% menjadi Rp 1.725. Kelima dengan kenaikan mencapai 299% dicatatkan saham DCII hingga menjadikan kapitalisasi pasarnya melesat menjadi Rp 400,35 triliun. Penguatan saham yang dikendalikan Otto Toto Sugiri, Marina Budiman, dan Han Arming Hanafia dengan investor strategis Anthoni Salim ini mulai terjadi setelah perseroan berniat melakukan pemecahan nominal saham (stock split).
Penurunan IHSG
Sementara itu, penurunan indeks 8,04% menjadi 6.510 hingga perdagangan saham sempat dilanda penghentian sementara (trading halt) selama 30 menit pada 10 Maret 2025 dipengaruhi atas penurunan harga saham-saham emiten kapitalisasi pasar (big cap) besar.
Berdasarkan data BEI penyumbang utama penurunan indeks berasal dari saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) setelah turun tajam sebanyak 40,70% pada kuartal I-2025, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi 36,58%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 12,14%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 8,77%, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melemah 28,07%.
Berdasarkan data hampir seluruh sektor saham mencatatkan penurunan sepanjang kuartal I-2025, kecuali saham sektor teknologi dengan kenaikan 89,63% terdorong lompatan harga saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mencapai 298,93% pada kuartal ini.
Baca Juga
Danantara akan Diguyur Dividen Bank Himbara Rp 47,91 Triliun pada April, Intip Perhitungannya
Adapun kapitalisasi pasar (market cap) BEI mengalami penurunan menjadi Rp 11.126 triliun pada kuartal I-2025, dibandingkan dengan kuartal I-2024 senilai Rp 11.692 triliun dan bernilai Rp 12.336 triliun. Padahal, sejumlah saham telah melakukan pencatatan perdana saham di BEI.
Buruknya kinerja IHSG BEI juga sejalan dengan derasnya aliran keluar modal asing dari pasar saham domestik pada kuartal I-2025. Berdasarkan data, investor asing mencatatkan net sell senilai Rp 29,92 triliun. Hal ini berbeda jau dengan posisi kuartal I-2024 dengan pembelian bersih mencapai Rp 26,27 triliun.
Penyumbang utama penjeualan bersih saham oleh investor asing berasal dari saham bank besar. Aksi jual tersebut sempat membuat harga saham bank tersebut melorot tahun lalu. Aksi tersebut juga berimbas terhadap penurunan IHSG BEI sepanjang kuartal I-2025.
Namun memasuki pekan terakhir Maret 2025, pemodal asing terpantau mulai agresif memborong saham hingga catatkan pembelian bersih (net buy). Dalam tiga hari terakhir, total net buy saham telah mencapai Rp 2,63 triliun. Pemodal asing terpantau mulai agresif memborong saham bank BMRI, BBCA, BBRI, hingga BBNI.

