Laba Atribusi Barito Pacific (BRPT) Melesat 1.329%, Berikut Penopang Utamanya
JAKARTA, investortrust.id – Emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), membukukan lompatan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk lebih dari 1.329% menjadi US$ 26,16 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 1,75 juta.
Sebaliknya pendapatan perseroan justru turun dari US$ 2,96 miliar menjadi US$ 2,76 miliar pada 2023. Manajemen BRPT dalam rilis laporan kinerja keuangan, Jumat (29/3/2024), menyebutkan penurunan tersebut dipengaruhi penurunan pendapatan dari segmen bisnis petrokimia sebanyak 12,4% menjadi US$ 2,08 miliar.
Baca Juga
Didukung Dua Faktor, Kini Saatnya bagi Saham Barito Pacific (BRPT)
“Penurunan penjualan petrokima dipicu gangguang eksternal pada pasokan dan permintaan global, sehingga memicu harga jual produk ini turun,” terang Dirut BRPT Agus Pangestu dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), hari ini.
Sedangkan pendaptan dari segmen bisnis energi berhasil tumbuh sebanyak 16,8% menjadi US$ 666 juta. Kenaikan tersebut ditopang peningkatan produksi listrik dan uap bersamaan dengan penyesuaian tarif pembangkit listrik geothermal melalui anak usahanya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Sedangkan faktor utama penopang lompatan laba bersih datang dari penurunan dalam beban pokok pendapatan dari US$ 2,51 miliar menjadi US$ 2,20 miliar. Penurunan tersebut ditopang pelemahan harga bahan baku naptha dari rata-rata US$ 814 per ton menjadi US$ 650 per ton. Alhasil laba kotor meningkat dari US$ 445,67 juta menjadi US$ 558,14 juta.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Lanjutkan Rugi Bersih hingga Utang Membengkak
Kenaikan juga didukung atas peningkatan keuntungan lain-lain bersih dari US$ 30,62 juta menjadi US$ 134,28 juta. Peningkatan bagian laba entitas asosiasi dan ventura dari US$ 39,45 juta menjadi US$ 69,99 juta. Sebaliknya beban keuangan melesat dari US$ 202,98 juta menjadi US$ 322,17 juta.
Hal ini menjadikan laba tahun berjalan perseroan melesat dari US$ 32,21 juta menjadi US$ 99,77 juta pada 2023. EBITDA perseroan juga melesat 28,8% dari US$ 475 juta menjadi US$ 612 sepanjang tahun lalu.
Barito Pacific (BRPT) merupakan perusahaan energi terintegrasi dengan aset listrik dan industry. Perseroan menggarap pembangkit listrik panas bumi melalui anak usahanya Barito Renewabeles yang mengoperasikan aset panas bumi dengan kapasitas 886 mega watt.
BRPT juga tercatat sebagai pengendali PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), yaitu perusaaan petrokimian terintegrasi terbesar dan satu-satunya di Indonesia. Sedangkan Prajogo Pangestu bertindak sebagai pengendali BRPT.

