Tren IPO Saham 2024 Melesu, Bagaimana Proyeksi 2025?
JAKARTA, investortrust.id - Sepanjang tahun 2024 tren penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang belum mencapai target 2024.
Berdasarkan data BEI hingga 20 Desember 2024 tercatat sebanyak 41 perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di BEI dengan total dana himpun sebesar Rp 14,35 triliun. Angka tersebut belum memenuhi target BEI yang membidik pencatatan efek baru lewat IPO 2024 sebanyak 62 perusahaan.
Sekadar catatan pula, target jumlah emiten baru yang melantai di bursa pada tahun ini juga sejatinya masih lebih rendah dibandingkan jumlah emiten baru yang IPO di tahun 2023 lalu, yang sebanyak 79 perusahaan.
Menurut pandangan Analis Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, tren IPO saham sepanjang 2024 yang tidak mencapai target bukanlah pesoalan. Baginya, hal terpenting bagi otoritas bursa dalam hal ini Bursa Efek Indonesia adalah, bagaimana menjaga nama baik Bursa Efek Indonesia sebagai penyelenggara sarana investasi pasar modal yang dapat dipercaya oleh para investor.
“Karena yang lebih penting adalah untuk menjaga nama baik Bursa Efek Indonesia sebagai penyelenggara sarana investasi pasar modal yang dapat sepenuhnya dipercaya oleh publik,” kata Reydi kepada investortrust.id, baru-baru ini.
Baca Juga
Menurut Reydi, kasus gratifikasi IPO yang mengemuka di media baru-baru ini membuktikan bahwa emiten bisa sembarangan melakukan IPO, yang pada ujungnya dapat melukai kepercayaan publik pada bursa saham Indonesia khususnya terkait proses pencatatan saham perdana.
Sebagaimana diberitakan, medio September 2024 lalu beredar kabar bahwa manajemen BEI pada Juli sampai Agustus 2024 telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada lima orang karyawan mereka. Mereka diberhentikan setelah ditemukannya pelanggaran berupa permintaan imbalan dan gratifikasi atas jasa penerimaan emiten untuk dapat tercatat sahamnya di BEl.
Kelima karyawan pada Divisi Penilaian Perusahaan BEl, yaitu divisi yang bertanggung jawab terhadap penerimaan calon emiten, telah meminta sejumlah imbalan uang dan gratifikasi atas jasa analisa kelayakan calon emiten untuk dapat tercatat sahamnya di BEI.
Setelah muncul kasus gratifikasi untuk para calon emiten, Reydi menekankan pentingnya seleksi yang lebih ketat bagi para calon emiten. Bila perlu, lanjut Reydi, otoritas dan regulator dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan bisa saja menambahkan sejumlah beleid baru sebagai adjusment, agar kasus serupa tak terulang lagi.
“Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa memang telah mengecam keras, menindak dan memecat seluruh oknum yang terlibat. Melalui hal ini, seleksi emiten perlu diperketat lagi dan beberapa regulasi perlu diadakan adjustment,” terang Reydi.
Reydi pun menekankan agar pihak Bursa bisa memberikan target yang lebih realistis di 2025 dan menerapkan sistem seleksi calon emiten IPO yang lebih ketat pada pipeline. Rencana IPO oleh para calon emiten, masih menurut Reydi, harus diisi oleh perusahaan-perusahaan berkualitas, berfundamental baik, dan memiliki rencana ekspansi bisnis yang terukur, dan memiliki goodwill.
Dihubungi terpisah, Pengamat Pasar Modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan bahwa pasar modal memasuki periode bearish atau melemah sejak akhir September lalu. Maka bisa dimaklumi bahwa sejatinya saat ini bukanlah momen yang tepat untuk listing di bursa efek, atau IPO.
Baca Juga
Melakukan IPO (Initial Public Offering) di bursa saham pada periode bearish, yaitu ketika pasar saham cenderung menurun secara keseluruhan, umumnya dianggap kurang ideal karena bisa dipastikan bahwa permintaan Investor pada produk pasar modal sebagai sasaran alokasi investasi mereka tengah berada pada level yang rendah.
Selama pasar bearish, investor cenderung lebih berhati-hati dan menghindari risiko. Akibatnya, permintaan untuk saham baru kemungkinan akan rendah, sehingga sulit bagi perusahaan calon emiten menarik minat investor baru untuk menyuntikkan dana mereka ke perseroan lewat proses IPO. Para calon emiten tentunya akan merasa khawatir harga saham mereka pada saat IPO menjadi kurang optimal.
Pada periode bearish, valuasi perusahaan juga cenderung lebih rendah karena ekspektasi pasar yang pesimistis. Jika calon emiten memaksakan diri untuk tetap listik di bursa, mereka bisa jadi harus menetapkan harga saham di bawah nilai sebenarnya untuk menarik pembeli. Langkah ini tentunya berimplikasi pada hilangnya potensi raihan modal yang lebih besar.
Sekadar informasi pula, kondisi pasar yang bearish biasanya ditandai dengan sentimen negatif, seperti kekhawatiran terhadap ekonomi, inflasi, atau kondisi global lainnya. Sentimen ini dapat memengaruhi pandangan investor terhadap perusahaan, terlepas dari kinerja perusahaan itu sendiri.
"Kemudian ada faktor eksternal dan juga internal yang membuat bursa kita bearish," ucap Budi saat dihubungi investortrust.id, baru-baru ini.
Meski fase bearish terjadi sejak akhir September, pada bulan yang sama indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat melewati periode bullish, bahkan naik hingga menyentuh rekor tertinggi baru atau all time high (ATH) pada perdagangan Kamis (19/9/2024) lalu. IHSG sempat menguat hingga 7.910,56 yang merupakan level tertinggi sepanjang masa.
Namun, setelahnya IHSG terus mengalami pelemahan menjelang akhir tahun 2024 bahkan sempat kembali menyentuh zona 6.000-an ke posisi 6.999,03 pada Kamis, (19/12/2024). Kondisi ini terjadi di tengah penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed dan keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga BI-rate di level 6%.
Di sisi lain, Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengutarakan, penurunan tren IPO ini terkait dengan transisi pemerintahan baru sehingga para pelaku pasar modal khususnya lebih cenderung bersikap berhati-hati dengan kebijakan fiskal maupun moneter di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga
IHSG BEI Ytd Anjlok 3,97%, Terburuk di Asean dan Nomor 2 di Asia Pasifik
"Jadi wajar saja karena ini di tahun ini merupakan momentum tahun politik, jadi dinamika tersebut turut mempengaruhi jumlah IPO di tahun ini yang memang relatif belum capai target, ditambah lagi dengan adanya faktor ketidakpastian kondisi global market," ujar Nafan saat dihubungi invetortrust.id.
Sebelumnya Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna melaporkan per 20 Desember 2024 terdapat 22 perusahaan yang sedang dalam antrean (pipeline) IPO saham. Dari angka tersebut sebanyak 19 perusahaan dengan aset skala besar dengan nilai di atas Rp 250 miliar.
“Sedangkan, 2 perusahaan dengan skala menengah beraset Rp 50- Rp 250 miliar dan 1 perusahaan dengan berskala kecil di bawah Rp 50 miliar,” tulis Nyoman dalam keterangan resmi kepada media, beberapa waktu lalu.
Jika dirinci, sebanyak 3 perusahaan sektor bahan baku, 1 perusahaan sektor konsumen siklikal, 5 perusahaan dari sektor konsumer non siklikal, 3 perusahaan sektor energi, 2 perusahaan sektor keuangan, 3 perusahaan sektor kesehatan, 3 perusahaan dari sektor industri, dan 2 perusahaan dari sektor properti dan real estate.
3 Perusahaan Mercusuar Melantai di BEI Tahun 2024
Meski IPO mengalami perlambatan, sepanjang 2024 BEI kehadiran tiga perusahaan dengan aset berskala jumbo alias perusahaan mercusuar (lighthouse) yang telah mencatatkan sahamnya. Perusahaan mercusuar merupakan istilah untuk emiten yang memiliki kapitalisasi pasar atau market cap minimal Rp 3 triliun dengan komposisi free float minimal 15%.
Ketiga perusahaan itu yakni PT Ancara Logistics Indonesia TBk (ALII) yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar 6,05 triliun, lalu PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar 63,65 triliun, dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) sebesar 45,09 triliun.
Prospek IPO Saham 2025
Terkait prospek IPO di tahun 2025, Reydi memproyeksikan akan semakin marak, dengan dilakukannya tindakan dari Bursa untuk memberhentikan oknum-oknum IPO, tentu kata Reydi hal ini dapat memulihkan nama baik Bursa serta akan membangkitkan kepercayaan dan gairah publik dalam berinvestasi kembali.
"Tahun 2025 ditargetkan ada 66 emiten yang akan melantai di bursa saham, sudah ada 8 emiten yang sudah dalam pipeline IPO di awal tahun, ada nama-nama besar yang akan siap IPO, diprediksi akan ada BUMN atau BUMD yang akan melantai di BEI," beber Reydi.
Senada dengan Reydi, Nafan memprediksikan tren IPO tahun 2025 akan berpotensi tumbuh lebih baik. Tentunya harus didorong dari likuiditas market relatif memadai dan stakeholders yang berkomitmen untuk terus mengembangkan infrastruktur pasar modal.
"Sehingga ini tentunya bisa meningkatkan daya tarik bagi para pelaku pasar untuk terus berpartisipasi dalam perusahaan yang akan IPO. Di sisi lain yang penting perusahaan yang akan IPO itu harus memiliki kualitas fundamental yang bagus, kualitas laporan keuangan juga bagus. Hal ini akan memberikan implikasi positif terhadap apresiasi dari IPO yang melantai ke BEI," tuturnya.
Baca Juga
Sementara itu, pada tahun depan, BEI membidik sebanyak 66 perusahaan yang melakukan pencatatan saham perdana atau IPO di pasar modal Indonesia. Direktur Utama BEI, Iman Rachman berharap mulai terbentuknya stabilitas politik akan meningkatkan antusiasme perusahaan untuk melangsungkan IPO di pasar modal Indonesia pada tahun 2025.
“Dengan mulai terbentuknya stabilitas politik, menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan bersikap wait and see sebelum IPO di 2024, kami berharap tentu saja akan berdampak positif pada peningkatan jumlah IPO di tahun 2025,” kata Iman dalam Konferensi Pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI.
Ke depan, Iman juga terus mendorong perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melangsungkan IPO. Hingga saat ini, sebanyak 14 perusahaan BUMN dan 23 anak perusahaan BUMN telah tercatat di BEI, sehingga total terdapat 37 perusahaan BUMN dan anak usahanya. Ia berharap akan semakin banyak perusahaan BUMN dan anak perusahaan BUMN akan melangsungkan IPO di pasar modal Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
Di sisi lain, BEI menetapkan proses seleksi yang ketat untuk menjaring perusahaan berkualitas dalam proses IPO, dimana harus melewati tahap- tahap yang telah ditetapkan diantaranya aspek penting adalah Environmental, Social, and Governance (ESG). Di mana, tahun ini rasio kelayakan perusahaan yang berhasil melangsungkan IPO di BEI sebesar 70% dari total pendaftar, ini artinya sebesar 30% tidak berhasil memenuhi seluruh persyaratan yang telah ditetapkan.

