Reku Incar Kenaikan Jumlah Pengguna 20% di 2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Rekeningku Dotcom Indonesia (Reku), platform investasi 800 lebih aset global yang terdiri dari aset kripto dan saham AS, menargetkan akan ada kenaikan jumlah pengguna sebanyak 20% di tahun 2025. Saat ini, Reku mencatat sudah ada sekitar 1 juta pengguna terdaftar.
Chief Compliance Officer (CCO) Reku Robby Bun mengatakan, aset digital kripto kian menarik minat investor di Indonesia. Tren positif ini didorong oleh peran aktif regulator Indonesia yang telah mengeluarkan regulasi yang mendukung. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap keamanan investasi aset kripto.
Robby mengatakan, untuk mencapai kenaikan pengguna menjadi 1,2 juta orang, Reku tengah menyiapkan beberapa strategi pengembangan.
“Pastinya pengembangan daripada produk yang ada saat ini, kan kita sudah ada staking. Harapannya kedepan kita juga mendukung bukan hanya derivatif kripto, namun juga ada pengembangan produk lain agar pengguna yang ada di Reku itu bisa mendapatkan one stock investment place. Jadi saat kripto lagi lesu, teman-teman mau main di dunia saham juga bisa,” ujarnya kepada investortrust.id di kantor Investortrust, Jakarta, Jumat (6/12/2024).
“Saham AS kita baru mulai, grand launching-nya nanti di Januari 2025,” tambahnya.
Baca Juga
Genjot Pertumbuhan Industri Kripto Tanah Air, Reku Kantongi Lisensi PFAK dari Bappebti
Reku, tambah Robby yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo-ABI) juga tengah menyiapkan agar Reku dapat menerima masuknya pengguna institusi. “Kita lagi mempersiapkan itu karena persyaratan untuk institusi itu banyak sekali,” ujar dia.
Selain itu, Reku baru-baru ini resmi mengantongi lisensi Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Lisensi ini memberikan Reku legalitas penuh untuk beroperasi sesuai dengan Peraturan Bappebti Nomor 13 Tahun 2022.
Lisensi ini merupakan langkah strategis untuk mendorong industri kripto yang lebih aman, transparan, dan berkelanjutan. Adapun dengan hal ini, Reku semakin mantap dalam mendongkrak literasi terkait dengan aset kripto. Pihaknya siap turun tangan untuk menarik minat masyarakat untuk berinvestasi aset kripto melalui inovasi produk dan layanan.
Di sisi lain, Reku juga berkomitmen untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam ekosistem aset kripto untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif di Indonesia.
Namun soal target kenaikan jumlah transaksinya di tahun depan, ia masih enggan membeberkannya. Adapun saat ini nilai transaksi di Reku mencapai Rp 2 triliun. Aset kripto dengan kapitalisasi terbesar di platform tersebut mencakup Bitcoin, USDT, Ethereum, Solana, dan XRP.
“Harapannya tahun depan kita mau lihat situasinya di masa transisi. Usaha tetap jalan, tapi prediksi setelah perpindahan, pasti ada penyesuaian. Di OJK ada beberapa divisi baru yang harus kita sesuaikan, mana yang boleh mana yang tidak,” katanya.
Baca Juga
Bitcoin Cetak ATH Baru dan Peningkatan Kapitalisasi Pasar, Reku: Potensi Kenaikan Masih Besar
Adapun Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK) mengatur transisi pengawasan aset kripto dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selambatnya pada Januari 2025.
Di sisi lain, dengan beralihnya pengawasan ke OJK, Robby juga berharap akan ada penindakan tegas terhadap platform kripto illegal “Di Indonesia kita dikelilingi dengan biaya-biaya, pajak penjualan, pajak pembelian, namun sebenarnya tidak dipermasalahkan. Harapannya lebih kepada perlindungan pengguna kripto utamanya atas platform ilegal,” ucap dia.
Lebih lanjut ke depannya, Robby optimistis bahwa adopsi kripto di Indonesia akan terus meningkat. Oleh karena itu, Reku terus melanjutkan upaya edukasi agar masyarakat memilih platform yang terdaftar untuk berinvestasi kripto, serta mengajak investor untuk berinvestasi dengan bijak

