Saham Bank Pelat Merah 'Menyala' di Sesi I, Intip lagi Target Harganya!
JAKARTA, investortrust.id – Lima saham bank BUMN ditutup melesat sepanjang perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (12/7/2024). Sedangkan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akhirnya kembali bertengger di atas Rp 5.000.
Berdasarkan data perdagangan saham BEI, saham BBNI melesat Rp 180 (3,70%) menjadi Rp 5.050. Berkat penguatan ini, saham bank pelat merah ini kembali ke atas level Rp 5.000 setelah sejak 20 Mei ditransaksikan di bawah level Rp 5.000 per saham.
Penguatan selanjutnya melanda saham PT Bak Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak Rp 120 (2,48%) menjadi Rp 4.960. Penguatan lebih lanjut tersebut menjadikan kenaikan saham bank BUMN kapitalisasi pasar terbesar di BEI ini telah mencapai 14,81% selama sebulan terakhir.
Baca Juga
Selanjutnya saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ditutup melesat Rp 75 (1,17%) menjadi Rp 6.475 dan saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) enguat Rp 40 (1,59%) menjadi Rp 2.550.
Sumber: Sucor Sekuritas
Adapun penguatan paling pesat dicatatkan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencapai Rp 65 (5,02%) menjadi Rp 1.360. Saham emiten bank yang focus pembiayaan perumahan ini kian perkasa setelah membatalkan akuisisi PT Bank Mualamat Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan target selanjutnya saham bank? Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis dalam riset terakhirnya mengatakan, mayoritas perbankan di Tanah Air hingga Mei masih berhasil mempertahankan pertumbuhan laba yang kuat. Total kenaikan laba emiten bank sampai Mei 2024 mencapai 8,1% atau lebih tinggi dari perkiraan sejumlah analis mencapai 6%.
Baca Juga
Industri Perbankan Hadapi Tantangan, Perlu Lanjutkan Restru dan Stimulus bagi UMKM
Begitu juga dengan rata-rata kualitas aset perbankan nasional masih bagus, NPL industri mencapai 2,3% dan rata-rata NPL kredit usaha kecil menengah 5%. Cadangan kerugian (LLR) bank juga masih kuat rata-rata mencapai 5,2% atau berada di atas sebelum Covid 4%. Hal ini memperkuat ketahanan perbankan nasional untuk menyerap dan memitigasi potensi masalah perbankan.
“Perbankan Tanah Air juga menunjukkan rata-rata pertumbuhan kredit kuat mencapai 14% hingga Mei 2024 untuk tujuh bank teratas. Kenaikan tersebut membantu perseroan untuk mengerek laba bersih dan mengimbangi kenaikan biaya kredit,” tulisnya dalam riset yang dipublikasikan hari ini.
Terkait NIM perbankan Indonesia, Edward mengatakan, diperkirakan tetap stabil dalam beberapa kuarta mendatang, seiring dengan ekspektasi perbaikan aset perbankan nasional. Hal ini diharapkan bisa menekan kenaikan biaya dana. BBCA tercatat sebagai bank dengan kenaikan NIM, dibandingkan bank BUMN yang mengalami penurunan.
Baca Juga
BSI (BRIS) Incar Posisi Top 3 Bank Syariah Global dalam 10 Tahun ke Depan
Sucor Sekuritas menilai bahwa dengan fakta-fakta tersebut pertumbuhan laba emiten perbankan Tanah Air tahun ini diperkirakan terus berlanjut, meskipun mengalami pelemahan. Kenaikan didukung pertumbuhan kredit yang kuat dengan pertumbuhan akan kembali pesat tahun 2025.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor perbankan dengan pilihan teratas BBRI. Saham BBRI menunjukkan valuasi paling menarik, seiring dengan potensi penurunan biaya kredit, perbaikan kualitas kredit, dan berlanjutnya pertumbuhan kredit dalam beberapa kuartal mendatang. Saham BBRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.000.
Grafik Saham Bank BUMN

