Dian Swastatika (DSSA): Saham Termahal di BEI hingga Genggam Treasury Rp 32,90 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kembali torehkan penguatan hingga menjadikannya sebagai saham termahal di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan penguatan harga saham emiten grup Sinarmas Ini telah mencapai 164,37% sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd).
Data perdagangan saham BEI intraday sesi I, Selasa (28/5/2024), menungkap saham DSSA melesat Rp 33.500 (18,82%) menjadi Rp 211.500 hingga pukul 11.18 WIB. Berkat lompatan harga tersebut, saham DSSA telah melesat dari Rp 80.000 menjadi Rp 211.500 sepanjang ytd atau melesat 164,37%.
Baca Juga
Dian Swastatika (DSSA) Terbitkan Obligasi dan Sukuk Rp 1,5 Triliun, Kuponnya hingga 9%
Selain lompatan harga saham, DSSA tercatat sebagai emiten dengan kepemilikan saham treasury terbanyak mencapai 20% saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Total nilai saham DSSA yang digenggam setara dengan Rp 32,90 triliun. Angka tersebut dihitung dari total 154,10 juta saham DSSA dengan harga Rp 213.500 per saham.
Lompatan harga saham DSAA kian moncer setelah manajemen mengumumkan rencana pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:10. Nominal saham perseroan akan dipecah dari Rp 250 menjadi Rp 25 per saham. Apabila harga saham DSSA bertahap di level Rp 213.500 per saham, makan harga saham usai stock split berada di level Rp 2.135 per saham.
Baca Juga
Aksi ini bertujuan membuat harga saham DSSA terjangkau bagi seluruh invetasi dan likuiditas transaksi meningkat. “Stock split diharapkan dapat meningkatkan minat investor untuk membeli saham perseroan, menambah jumlah pemegang saham, dan menaikkan likuiditas,” tulis pengumuman resmi perseroan di Jakarta, pekan lalu.
Aksi tersebut akan direalisasikan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUSPLB) pada 25 Juni 2024. Sedangkan perdagangan saham hasil stock split diharapkan sudah terlaksana pada 18 Juli 2024.
Dian Swastatika (DSSA) merupakan perusahaan yang dikendalikan Sinarmas Group melalui PT Sinar Mas Tunggal dengan kepemilikan 59,9% saham DSSA. Sisanya saham treasury sebanyak 20% dan saham public mencapai 20,1%.
Hingga akhir 2023, DSSA mencatatkan penurunan pendapatan usaha menjadi US$ 5,01 miliar, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 5,96 miliar. Laba usaha juga turun dari US$ 1,77 miliar menjadi US$ 1,25 miliar. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melemah dari US$ 589,89 juta menjadi US$ 426,17 juta.
Grafik Saham DSSA

