Meroket Usai Masuk MSCI Global, Saham Chandra Asri (TPIA) Kejar Market Cap BCA (BBCA)
JAKARTA, investortrust.id – Laju pengautan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kian moncer usai resmi masuk dalam perhitungan MSCI Global Standard Indexes. Saham emtien Prajogo Pangestu ini kembali mencatatkan level tertinggi baru (all time high/ATH) pagi hari ini.
Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/5/2024), saham TPIA sempat melesat hingga menyentuh level Rp 9.300 atau melesat Rp 875. Sedangkan hingga pukul 09.15 WIB, penguatan telah mencapai Rp 625 (7,42%) menjadi Rp 9.050.
Baca Juga
Berkat lompatan harga tersebut, kapitalisasi pasar (market cap) saham TPIA melesat menjadi Rp 785,08 triliun atau jauh meninggalkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 727,67 triliun. Bahkan, terbuka peluang TPIA menggeser PT Bank Central Asia TBk (BBCA) dari tahta emiten dengan market cap terbesar kedua di BEI, apabila laju penguatan saham TPIA berlanjut.
Terkait aksi korporasi terakhir saham TPIA, yaitu Chandra Asri (TPIA) bersama dengan Glencore sebelumnya telah mengumumkan rencana akuisisi sebanyak 100% saham perusahaan kilang minyak mentah, Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) dari Shell Singapore Pte, dinilai berdampak positif bagi perseroan ke depan.
Stockbit Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa akuisisi tersebut akan memberikan tiga dampak positif bagi TPIA, yaitu pertumbuhan pendapatan yang signifikan, diversifikasi produk melalui kepemilikan bisnis kilang, dan sinergi dengan Glencore untuk meningkatkan daya saing global.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Akuisisi Kilang Minyak dan Kimia Shell Energy, Begini Dampaknya Positifnya
“Kami memperkirakan pendapatan perseroan berpotensi meningkat lima kali, seiring dengan potensi pendapatan tambahan berkisar US$ 8-10 miliar per tahun dari akuisisi kilang tersebut,” tulisnya dalam riset hariannya di Jakarta, Senin (13/5/2024).
Dengan posisi sebagai pengendali dalam perusahaan patungan tersebut, TPIA berpeluang mendapatkan tambahan pendapatan sekitar US$ 6,4-8 miliar per tahun atau naik 3-4 kali lipat, dibandingkan pendapatan perseroan tahun tahun 2023 mencapai US$ 2,2 miliar. Diversifikasi bisnis ini diharapkan dapat membantu meningkatkan performa keuangan TPIA dari posisi rugi bersih US$ 33,6 juta tahun 2023 dan US$ 33,1 juta pada kuartal I-2024.
BRPT Diuntungkan
Sementara itu, analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan dan Jeremy Hansen dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin menyebutkan, TPIA memiliki kesempatan paling bagus untuk dimasukkan dalam perhitungan MSCI global bulan ini. Apalagi rata-rata kapitalisasi free float saham TPIA telah mencapai US$ 3,3 miliar dalam tiga bulan terakhir.
Selain itu, ungkap dia, likuiditas perdagangan saham TPIA terpantau melesat dalam tiga bulan terakhir dengan rata-rata mencapai Rp 166 miliar per hari. Angka tersebut lebih besar dari saham TOWR dan SMGR. Rata-rata transaksi saham TPIA tersebut meningkat hampir 98%, dibandingkan rata-rata tiga bulan sebelumnya.
Baca Juga
Akuisisi Kilang Minyak dan Kimia Shell Energy akan Perkuat Chandra Asri (TPIA)
Apabila saham TPIA berhasil masuk dalam perhitungan MSCI Global, Sucor Sekuritas menyebutkan, prospek saham induk usahanya PT Barito Pacific Tbk (BRPT) akan terdongkrak. Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk kembali mempertahankan beli saham BRPT dengan target harga Rp 2.500.
Saat ini, saham BRPT memiliki potensi cuan menggiurkan mencapai 155%. Angka tersebut juga menunjukkan potensi peningkatan nilai transaksi besar ke depan.
Grafik Saham TPIA

