Target Harga BNI (BBNI) Direvisi Naik, Potensi Cuannya Makin Besar
JAKARTA, Investortrust.id – Target harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) direvisi naik, seiring dengan keberhasilan mendongkrak pertumbuhan kredit hingga Agustus 2023, dibandingkan pencapaian semester I tahun ini.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dan David Chong mengatakan, BNI berhasil mengerek kredit menjadi 8% hingga Agustus 2023, dibandingkan semester I-2023 sebesar 5%. Angka tersebut sudah sesuai dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 7-9% tahun ini.
Baca Juga
“Pertumbuhan kredit tersebut didukung agresifnya belanja pemerintah pada paruh kedua dan faktor pemilihan umum,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.
Didukung pertumbuhan kredit yang kuat bersamaan dengan kualitas aset kredit sudah sesuai harapan, RHB Sekuritas memperkirakan, torehan kinerja keuangan perseroan pada kuartal III-2023 cenderung bertumbuh lebih baik.
Pertumbuhan pesat juga terlihat keberhasilan perseroan merealisasikan peningkatan pendapatan bunga bersih dari Rp 26,70 triliun menjadi Rp 27,43 triliun hingga Agustus 2023. PPOP juga naik tipis dari Rp 22,84 triliun menjadi Rp 22,90 triliun. Hal ini membuat laba bersih perseroan melambung 12% dari Rp 12,17 triliun menjadi Rp 13,63 triliun.
Selain itu, perseroan mencatatkan pertumbuhan kredit yang baik mencapai 8%, simpanan bertumbuh 7%, CASA naik 7%, dan simpanan deposito meningkat 8% hingga Agustus 2023. Sedangkan margin bunga bersih (NIM) turun dari 4,50% menjadi 4,40% dan sebaliknya biaya kredit (CoC) turun dari 2% menjadi 1,4%.
Baca Juga
Meski Cetak Rekor, Target Saham BNI (BBNI) Ternyata masih Tinggi
Penguatan sejumlah indicator tersebut mendorong RHB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga direvisi naik dari Rp 5.750 menjadi Rp 6.250. Target tersebut juga mempertimbangkan tuntasnya pemecahan nilai nominal saham.
Target tersebut juga mempertimbangkan perkiraan peningkatan laba bersih eprseroan menjadi Rp 21,19 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 18,31 triliun. Sedangkan P/B tahun ini diprediksi mencapai 1,26 kali atau turun dari realisasi tahun lalu sekitar 1,45 kali.

