Perbaikan Berlanjut, Saham Garuda (GIAA) Direkomendasi Buy dengan Potensi Gain 445,9%
JAKARTA, investortrust.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menunjukkan tren perbaikan terlihat dari data pertumbuhan penumpang hingga pendapatan seluruh segmen bisnis perseroan sampai September 2023. Perbaikan juga ditunjukkan keberhasilan perseroan melanjutkan efisiensi dengan penurunan biaya.
Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas merekomendasikan beli saham GIAA dengan target harga Rp 330 dalam riset inisiasi yang diterbitkan di Jakarta, baru-baru ini. Dengan harga saham GIAA Rp 74 pada perdagangan kemarin, terbuka potensi gain saham ini hingga 445,9% dalam 12 bulan ke depan.
Analis Sinarmas Sekuritas Isfhan Helmy mengatakan, tren penguatan operasional dan keuangan GIAA terlihat dari lompatan penumpang maskapai Indonesia bertumbuh menjadi 46,6 juta hingga September 2023. Grup Garuda menjadi maskapai dengan pangsa pasar terbesar mencapai 28,1%, yaitu Garuda mencapai 4,6 juta penumpang dengan pangsa pasar 9,8% dan Citilink sebanyak 8,5 juta penumpang dengan pangsa pasar 18,3%.
Baca Juga
Garuda Indonesia (GIAA) Pastikan Posisi Keuangan Sehat Tahun Ini
Citilink tercatat sebagai maskapai low cost carrier dengan pangsa pasar terbesar penumpang, dibandingkan dengan Garuda. Hal ini berbeda dengan posisi tahun 2019, yaitu pangsa pasar Garuda mencapai 20%.
Tak hanya mencatatkan pertumbuhan pesat pangsa pasar, Citilink mulai mencatatkan EBIT positif pada kuartal III-2023 senilai US$ 8 juta, dibandingkan kuartal II-2023 dengan rugi EBIT senilai US$ 5 juta.
EBIT positif tersebut didukung keberhasilan menciptakan efisiensi yang ditunjukkan penurunan CASK dari US$ 6,3 menjadi US$ 6 pada kuartal II-2023 dan kembali turun menjadi US$ 5,9 pada kuartal III-2023. Penruunan juga dipicu atas pelemahan harga pembelian bahan bakar Avtur dan penurunan biaya di luar bahan bakar.
Baca Juga
Garuda Indonesia (GIAA) Menang Atas Gugatan Greylag Entities di Pengadilan Paris
“Kami memperkirakan Citilink akan mencatatkan EBIT positif senilai US$ 60 juta tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dari raihan tahun 2019 senilai US$ 43 juta,” tulis Isfhan Helmy dalam riset baru diterbitkan di Jakarta, beberapa hari lalu.
Pertumbuhan kinerja keuangan perseroan juga bakal didukung berlanjutnya peningkatan jumlah penumpang dan penguatan bisnis di luar penerbangan. Sedangkan pertumbuhan penumpang datang dari ekspektasi kenaikan jumlah penumpang Haji tahun ini. Perseroan juga didukung proyeksi stabilnya harga minyak serta stabilnya biaya operasional di luar bahan bakar.
Grup Garuda juga terbantu dengan perubahan skema sewa pesawat dari sebelumnya flat bulanan dan menjadi per jam penggunaan. Skema ini diterapkan untuk semua pesawat sewaan Garuda. Skema ini berhasil menekan biaya sewa pesawat dari sebelumnya berkisar US$ 500 per pesawat tahun 2019 menjadi sekitar US$ 100 ribu per pesawat setiap bulan pada 2023. Perubahan skema tersebut membuat kontribusi biaya sewa pesawat terhadap total biaya operasional turun dari 30% menjadi 5%. Sedangkan harga bahan bakar menjadi penyumbang terbesar terhadap total biaya, yaitu mencapai 40%.
Baca Juga
Pendapatan Garuda (GIAA) Terbang 48,37%, Rapor Bottom Line Masih Merah
Pertumbuhan kinerja keuangan perseroan juga bakal didukung atas penguatan segmen bisnis lainnya. Hal ini diharapkan mendorong EBIT perseroan mencapai US$ 500 juta tahun ini dan laba bersih senilai US$ 35 juta tahun ini.
Secara saham, Isfan mengatakan, kapitalisasi pasar saham GIAA hanya mencapai Rp 7,4 triliun atau baru merefleksikan 0,6 kali EV/EBITDAR. Angka tersebut tergtolong rendah, dibandingkan emiten maskapai lainnya. Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham GIAA dengan target harga Rp 330.
Target tersebut mempertimbangkan ekspetkasi laba bersih perseroan tahun ini US$ 35 juta dan pendapatan naik menjadi US$ 3,01 miliar. Laba juga diharapkan berlanjut melesat menjadi US$ 119 juta tahun 2025.

