BI Terbitkan SRBI 15 September, Yield Bisa Lebih Tinggi dari SBN
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia segera menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan dapat dibeli oleh semua investor baik lokal maupun asing.
Kehadiran instrumen ini diyakini semakin melengkapi instrumen moneter yang dapat menyerap likuiditas di pasar keuangan dalam negeri.
Ekonom PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) Emil Muhamad menilai, SRBI akan membantu menjaga likuiditas rupiah, sekaligus menjadi alternatif investasi yang menarik bagi investor asing sepanjang yield yang ditawarkan lebih menarik dari Surat Berharga Negara (SBN).
Dikatakan Emil Muhamad, kompetisi di pasar utang jangka pendek akan semakin menarik perhatian investor ke depan.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Terbitkan Obligasi Rp 1 Triliun, Sodorkan Bunga 7%-8%
‘’Tingkat yield yang ditawarkan SRBI diperkirakan lebih menarik dari SBN. Sebagai perbandingan, yield SBN tenor 6 bulan saat ini pada kisaran 6,16%, sedangkan rate reverse repo BI tenor 6 bulan sebesar 6,31% pada lelang terakhir 18 Agustus lalu,’’ papar Emil Muhamad di Jakarta, Selasa (5/9/2023).
Memang rate SRBI tidak berarti akan sepenuhnya menyamai reverse repo. Profil pembeli yang lebih luas, besaran pajak serta kondisi likuiditas rupiah, akan mempengaruhi rate SRBI, tambah Emil.
Lelang SRBI perdana akan dilakukan Bank Indonesia pada 15 September 2023, yang selanjutnya akan digelar setiap Rabu dan Jumat untuk tenor enam, sembilan dan 12 bulan.
Bank sentral akan menjadikan SRBI sebagai instrumen operasi moneter menggantikan reverse repo (RR) SBN dengan tenor yang sama, namun dengan pola yang sedikit berbeda. Bila RR SBN hanya boleh dibeli oleh perbankan, maka SRBI bisa dibeli oleh semua investor yang berminat.
Hingga saat ini untuk menyerap likuditas jangka pendek, di pasar uang telah tersedia instrumen time deposit, SBN tenor pasar uang dan juga JIBOR.
Baca Juga
Dikatakan, kehadiran SRBI akan membuat kompetisi di pasar surat utang jangka pendek semakin ketat, karenanya sangat penting bagi otoritas moneter untuk memastikan peluncuran instrumen baru ini dilakukan dengan mulus.
Apalagi tahun depan total SBN neto yang akan diterbitkan pemerintah akan naik menjadi sekitar Rp 666,4 triliun, naik dari asumsi tahun ini sebesar Rp 362,9 triliun.
SRBI sendiri akan menggunakan SBN yang dimiliki bank sentral sebagai underlying asset. Total SBN yang dimiliki BI secara gros saat ini mencapai Rp 1.360,9 triliun.
‘’Kami menilai dampak SRBI akan lebih dirasakan oleh SBN tenor pasar uang di bawah satu tahun dan SBN tenor pendek yang masih memiliki yield dibawah suku bunga RR BI tenor enam hingga 12 bulan,’’ kata Emil. Namun secara keseluruhan, kami menilai pasar obligasi cukup menarik hingga tahun depan, ditengah ekspektasi penurunan suku bunga global yang akan diikuti dengan turunnya bunga acuan domestik, tambahnya.

