Diprediksi Pulih, Begini Prospek dan Target Harga Saham CPIN, JPFA, dan MAIN
JAKARTA, Investortrust.id – Margin keuntungan emiten sektor peternakan ayam diprediksi pulih pada November-Desember 2023, meskipun harga jual daging ayam terpantau masih turun dalam dua pekan Oktober 2023 bersamaan dengan kenaikan harga pembelian jagung.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengatakan, harga jual ayam hidup terpantau masiah volatile dalam dua pekan Oktober 2023 dalam rentang Rp 18-21 ribu per kg. Hal ini dipengaruhi atas penurunan daya beli masyarakat menengah ke bawah sejak September 2023.
Baca Juga
Jelang Kuartal Akhir 2024, Cermati Saham Emiten Peternakan Ayam Ini
Harga jual tersebut terpantau lebih rendah dari realsisasi Mei-Agustus dengan rata-rata harga jual ayam dalam kisaran Rp 19-23 ribu per kg. “Meski demikian kami melihat tetap terbuka penguatan harga jual daging ayam pada November -Desember 2023 ditopang kampanye politik dan akhir tahun diharapkan mendongkrak permintaan daging ayam,” tulisnya.
Terkait dengan harga jual anak ayam usia sehari (DOC), menurut Victor, juga turun ke level Rp 5-6 ribu per ekor sejak akhir September hingga pertengahan Oktober 2023. Penurunan harga tersebut kemungkinan akibat harga jual daging ayam yang terpantau rendah.
Namun demikian penurunan harga tersebut diperkirakan bersifat sementara, apalagi November-Desember diharapkan terjadi peningkatan harga jual daging ayam.
Baca Juga
Presiden Jokowi Adakan Pertemuan Tertutup dengan Kiai Sepuh di PCNU
Sedangkan harga jual jagung, menurut dia, terpantau naik akibat kondisi cuaca panas yang berimbas dan musim panen belum terjadi membuat harga naik dari Rp 6.000 ke level Rp 6.200 per kg pertengah Oktober 2023.
Sedangkan harga pembelian buntil kedelai (SBM) terpantau masih turun ke bawah US$ 400 per ton. Namun demikian penurunan tersebut tak terlihat akibat depresiasi rupiah dari Rp 15.200-15.300 menjadi Rp 15.500-15.700 pada pertengahan Oktober.
Meski masih ada beberapa sentimen negatif menyelimuti sektor peternakan ayam. Victor mengatakan, saham sektor peternakan sudah layak dicermati, karena sudah turun terlalu dalam sejak awal tahun. Bahkan, valuasi saham ini kian menarik atau sudah berada di bawah rata-rata dalam lima tahun terakhir.
Baca Juga
Presiden Sebut Santri Pilar Kekuatan Bangsa, Terbukti Sejak Zaman Perjuangan
“Kami juga menilai bahwa laba bersih emiten peternakan aym akan kembali bertumbuh tahun depan dengant arget kenaikan EPS sebanyak 22% pada 2024 dan EBITDA dengan target pertumbuhan 17%,” terangnya.
Berbagai faktor tersebut mendorong Victor Stefano untuk mempertahankan rekomendasi beli saham CPIN dengan target harga Rp 6.700, saham JPFA dengan target harga Rp 1.500, dan saham MAIN dengan target harga Rp 550.
Prosepek Saham Peternakaya Ayam
Sumber: BRI Danareksa Sekuritas

