Rancang Rights Issue, Harita Nickel (NCKL) Undang Strategic Investor dari Eropa
JAKARTA, investortrust.id – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dari Harita Nickle berencana menggelar rights issue. Rights issue sepenuhnya untuk mengembangkan core business, sekaligus hendak menunjukkan bahwa perusahaan yakin dengan masa depan bisnis nikel hulu hingga hilir.
Trimegah Bangun Persada atau Harita Nickel ini tengah melakukan penjajakan dengan investor. “Dengan investor masih berjalan negosiasinya, jadi angkanya belum tahu berapa masuknya, dengan harga berapa, dan totalnya berapa. Kalau dari investor masuknya nggak kecil, mungkin 10-25% dari total saham. Makanya kami sebut dia strategic investor, yang membuktikan advantages buat perusahaan nikel terpadu TBP untuk melakukan penetrasi pasar yang lebih baik,” kata Presdir PT Trimegah Bangun Persada Tbk Roy Arman Arfandy di acara Malam Bersama Para Pemimpin Media dengan Jajaran Manajemen Harita Nickel pada Rabu, 6 Maret 2024, di Artoz, Energy Building, SCBD, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Baca Juga
Intip Target Harga Saham Terbaru Harita Nickel (NCKL), Potensi Cuannya Gurih!
Jadi, lanjut Roy, perusahaan akan melakukan corporate action karena ada interest dari beberapa strategic investor yang ingin masuk ke Harita Nickel, yang ingin menjadi pemegang saham Harita Nickel. Momentum ini akan dimanfaatkan untuk mendukung ekspansi lebih lanjut perusahaan.
“Ada yang menawarkan dana fresh kenapa tidak? Kami berencana menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) luar biasa untuk mendapatkan persetujuan pemegang saham yang sudah ada, agar kami bisa melakukan rights issue atau private placement, sehingga strategic investor bisa masuk,” bebernya.
Baca Juga
Uang yang masuk, lanjut dia, dapat digunakan untuk pengembangan usaha lebih lanjut ke depan. Ini termasuk membeli tambang baru, atau mengekspansi kapasitas produksi yang ada saat ini.
“Mengapa kami melakukan itu, karena strategic investor-nya cukup bergaung, salah satunya dari Eropa, salah satu pemain komoditas di sana. Kenapa? Saat ini, kami banyak menjual ke Cina, kemudian masuk strategic investor dan kami membuka wacana bukan hanya menjual ke Cina tapi juga negara Barat dan lainnya,” tandas dia.
Tetap Fokus Bisnis Nikel
Roy menegaskan, emiten berkode saham NCKL akan tetap fokus pada bisnis nikel —hulu hingga hilir— karena prospeknya yang cerah. Ia menjelaskan, pada Mei dan Juni lalu, perusahaan mulai memproduksi perdana dan ekspor perdana nikel sulfat dengan kapasitas terbesar di dunia.
“Kemudian Desember 2023, kami mulai ONC, mulai jalan. Progresnya sudah 57%. Dengan kondisi pada bulan Mei yang eksis kapasitas terpasang 65.000 ton, rencananya kita akan memiliki kapasitas MHP (mixed hydroxide precipitate, salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik) 120.000 ton. Mungkin, saat ini, akan menjadi yang terbesar di Indonesia dalam produksi MHP,” ujar Roy.
Sumber: Harita Nickel.
Di hulu, emiten nikel terintegrasi berbasis di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara ini akan melakukan akuisisi untuk memperkuat sumberdaya atau nickel ore, pada Desember 2024. Dengan akuisisi tersebut, tambang yang dimiliki perusahaan bertambah dari 4 menjadi 6. Hal ini akan memperpanjang masa pasokan nickel ore ke pabrik-pabriknya di Pulau Obi.
“Nanti prosesnya (MHP diolah menjadi) nikel sulfat dan kobalt sulfat. Itu bahan baku untuk precursor (prekursor katoda yang umumnya mengandung nikel, kobalt, dan mangan akan berubah menjadi katoda dengan penambahan litium),” paparnya.
MPH tersebut merupakan hasil hilirisasi pengolahan nikel kadar rendah limonit. Sebelumnya, limonit diperlakukan sebagai over-burden (batuan sisa).
Sedangkan di jalur hilirisasi pengolahan nikel kadar tinggi saprolit yang sudah dilakukan sejak dulu, pengolahannya menghasilkan feronikel. Salah satu kelompok usahanya, PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), memproduksi feronikel.
Produk setengah jadi dalam bentuk ingot itu digunakan untuk bahan baku baja industri antikarat (stainless steel), baterai, dan elektronik. Selain itu, untuk mata uang koin, moda transportasi, hingga barang-barang keperluan rumah tangga.
Baca Juga
Harita Nickle (NCKL) Rancang Private Placement dan Rights Issue Jumbo
Roy pun menegaskan, perusahaan tetap konsisten dengan ekspansi yang dilakukan. Pihaknya tetap fokus menyelesaikan pabrik HPAL (yang akan menambah produksi MHP) yang merupakan smelter keduanya. Selain itu, menyelesaikan peningkatkan kapasitas HJL untuk produksi feronikel.
“Sehingga, kami bisa meningkatkan kapasitas produksi dan tentunya berkontribusi lebih baik karena secara volume meningkat. Dengan demikian, pajak dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) ke negara juga makin meningkat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, realisasi produksi nikelnya hingga sembilan bulan pertama 2023 meningkat signifikan. Sedangkan hingga Desember, produksi perusahaan telah melebihi target atau desain kapasitas yang terpasang selama 2023.
“Produksi actual kami tahun lalu melampaui target produksi yang kami tetapkan di 2023, baik itu di feronikel maupun di MHP untuk bahan baku baterai mobil listrik. Kami belum bisa mem-publish laporan keuangan 2023 karena belum selesai, tapi akhir Maret ini, laporan keuangan bisa keluar,” imbuhnya.
Perusahaan juga berencana mengembangkan kapasitas pabrik. Pada 2024, emiten dengan ticker code NCKL ini akan menyelesaikan pabrik sehingga menambah kapasitas produksi MHP 20.000 ton.
“Tahun ini, akan dimulai juga dengan kapasitas smelter ketiga KPS (PT Karunia Permai Sentosa, entitas asosiasi yang memproduksi feronikel) mulai dibangun empat line. Jadi, nanti setelah selesai semua KPS, kapasitas produksi kami mencapai 425.000 ton, di mana 120.000 ton berasal dari MHP dan 305.000 ton bentuknya feronikel yang akan dikontribusikan oleh tiga perusahaan MSP, AJF, dan KPS yang akan dilakukan sampai 2025,” paparnya.
Produk perusahaan seperti nikel sulfat untuk bahan baku baterai listrik, lanjut dia, selama ini diekspor 100%. Pasalnya, tidak ada yang memakainya di Indonesia.
Baca Juga
Rights Issue Harita Nickle (NCKL) bisa Capai Rp 21,9 T, Bagaimana Dampaknya?
Potensi Raih Rp 21,9 Triliun
Sementara itu, Samuel Sekuritas memaparkan sebelumnya, manajemen NCKL menyebutkan investor strategis merupakan perusahaan komoditas dan tidak dimiliki oleh pihak asal Tiongkok. Aksi tersebut akan direalisasikan setelah mendapat persetujuan pemegang saham pada RUPSLB 15 Maret 2024.
“Dengan asumsi harga Rp 870 per saham, NCKL berpotensi meraup dana Rp 21,9 triliun dari rights issue dan private placement, dengan potensi dilusi masing-masing sebesar 23,1% dan 9,1%,” tulis riset perusahaan sekuritas tersebut baru-baru ini. (pd)

