Harga Anjlok 62%, Saham Emiten Pelayaran (HUMI) Tommy Soeharto Digembok BEI
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pengentian sementara atau suspensi pada Saham & Waran Seri I PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI & HUMI-W).
Suspensi saham perusahaan yang terafiliasi dengan Tommy Soeharto tersebut dilakukan BEI seiring penurunan harga kumulatif sebesar -27,85% dari level 79 per saham pada 2 Februari 2024 ke level 57 per saham pada 7 Februari 2024.
Sedangkan selama sebulan terakhir saham HUMI anjlok -62,99% dari level Rp 154 per saham pada tanggal 12 Januari 2024.
Suspensi saham dan waran emiten angkutan laut tersebut berlaku mulai perdagangan sesi I, Senin (12/02/2024).
Baca Juga
Meroket 187% Sebulan, Saham Grup Mayapada (SRAJ) Disuspensi BEI
Berdasarkan Pengumuman BEI yang ditandatangani Yulianto Aji Sadono dan Pande Made Kusuma Ari A, masing-masing selaku Kepala Divisi Pengawasan Transaksi Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI disebutkan, suspensi saham HUMI dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai.
“Sehubungan dengan terjadinya penurunan harga kumulatif yang signifikan pada saham HUMI, kami memutuskan melakukan suspensi saham tersebut, dalam rangka cooling down sebagai bentuk perlindungan bagi Investor,” tulis Aji dan Pande dikutip dari pernyataannya Senin, (12/02/2024).
Adapun suspensi dilakukan untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di saham dan waran PT Humpuss Maritim Internasional Tbk.
Baca Juga
Pengamanan Pemilu 2024, Samsat Keliling dan Gerai Samsat Jakarta Ditiadakan Hari Ini
Lebih lanjut, BEI mengimbau para pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan.
Sebelumnya, Manajemen HUMI menyampaikan rencana alokasi belanja modal (capex) sebesar Rp 802,50 milliar sepanjang tahun 2024. Dana tersebut akan digunakan untuk pembelian 9 armada sepanjang 2024.
Dirut HUMI Tirta Hidayat mengatakan, pembelian armada baru ini bertujuan untuk mendukung program pemerintah, terutama konservasi energi berupa peningkatan persentase pencampuran bahan bakar nabati dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis minyak solar dari 30% (B30) menjadi 35% (B35).
Perusahaan pelayaran milik Tommy Soeharto ini membidik tambahan 9 kapal tahun ini, yaitu 3 kapal Oil & Chemical Tanker, 1 LNG Vessel, dan 5 Tugboat. “Anggaran pembelian Oil & Chemical Tanker tersebut merupakan bentuk strategi ekspansi perseroan dalam memenuhi kebutuhan methanol yang terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan permintaan atas bahan bakar nabati,” tulisnya dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (16/1/2024).
Selain mengangkut methanol, dia mengatakan, kapal tanker ini ditujukan untuk mengangkut caustic soda dan asam sulfat, seiring dengan peningkatan permintaan bahan kimia tersebut untuk mendukung industri nikel di Indonesia.
Tirta juga menyampaikan, penambahan kapal ini diharapkan menjadi katalis positif pendorong kinerja perseroan, terutama dalam lini bisnis oil & chemical. “Tahun 2024, perseroan menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 20,50%, stabilitas pertumbuhan setiap tahunnya akan terus dijaga," ujarnya.

