IHSG Ambles Tajam 3,2% ke 7.138, Sentimen Global dan Rupiah Picu Aksi Jual
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) intraday sesi II di Bursa Efek Indonesia terpantau anjlok lebih dari 3,2% menjadi 7.138, Jumat, (24/4/2026), dipicu kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri.
Mengacu data BEI, hingga pukul 14.12 WIB IHSG merosot 240,27 poin (3,26%) ke posisi 7.138,32, dengan nilai transaksi mencapai Rp15,02 triliun. Penurunan dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham. Adapun saham big cap, seperti BBCA, BREN, dan DSSA jadi penekan utama.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, penurunan IHSG hari ini dipicu kombinasi tekanan global dan arus keluar dana asing yang kembali agresif, serta diperparah pelemahan rupiah yang menekan kepercayaan investor.
Baca Juga
BFI Finance (BFIN) Disebut Masuk Radar M&A, Investor Jepang kembali Bidik Multifinance RI?
“Selain itu, pasar domestik juga masih dalam fase penyesuaian isu free float dan high shareholding concentration (HSC),” kata Reydi kepada investortrust.id, Jumat (24/4/2026).
Ia menambahkan, selama sentimen global belum membaik dan arus dana asing masih keluar, IHSG berpotensi masih melemah.
“Namun, penurunan tajam seperti hari ini biasanya juga membuka ruang teknikal rebound jangka pendek,” jelas Reydi.
Untuk pekan depan, Reydi memproyeksikan IHSG akan bergerak fluktuatif dalam rentang terbatas, dengan peluang rebound teknikal. Meski demikian, penguatan dinilai belum cukup kuat untuk membentuk tren naik baru tanpa adanya katalis positif, baik dari global maupun domestik.
Fase Downtrend
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit mengatakan secara teknikal IHSG masih berada dalam fase downtrend dan telah menutup sejumlah area gap yang terbentuk sebelumnya.
“Pergerakannya masih rawan terkoreksi untuk uji area gap berikutnya di 7.022-7.118, namun apabila IHSG mampu bertahan di atas area support krusial 6.917, maka IHSG berpeluang kembali menguat. Worst case, apabila IHSG break area 6.917 maka akan mengarah ke 6.645-6.727,” kata Didit saat dihubungi investortrust.id, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Anjlok Parah 3,06%, Sebaliknya Dua Saham Ini Cetak ARA
Dari sisi sentimen, sejalan dengan Reydi, Didit menilai pergerakan IHSG turut dipengaruhi bursa global dan regional Asia yang mayoritas terkoreksi, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Dari konflik Timur Tengah saat ini sedang terjadi perpanjangan gencatan senjata Israel dan Lebanon selama 60 hari, dimana memberikan angin segar ke depannya, namun harga minyak mentah masih cenderung menguat yang dikhawatirkan akan menimbulkan inflasi dan perlambatan ekonomi secara global,” ujar Didit.
Sementara dari dalam negeri, Didit menyoroti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang hari ini bergerak menguat ke level 17.285, setelah sebelumnya sempat melemah di kisaran 17.300. Meski demikian, investor masih cenderung mencermati risiko fiskal APBN 2026.

