Tertinggi Dalam 11 Pekan, Bitcoin Sempat Ke US$ 79.000-an di Tengah Ketegangan AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin bertahan di atas level US$ 78.000-an setelah sempat mencetak reli kuat dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta dorongan teknikal dari likuidasi posisi short di pasar derivatif.
Sebelumnya, Bitcoin menembus level US$ 78.000 pada 22 April 2026 tertinggi dalam 11 minggu sebelum melanjutkan kenaikan hingga menyentuh US$ 79.000-an. Data CoinGlass menunjukkan sekitar US$ 180 juta posisi short terlikuidasi, memicu short squeeze yang mempercepat kenaikan harga.
Dari sisi pasar, melansir Coinmarketcapnews, Kamis (23/4/2026) lonjakan juga didukung oleh kuatnya permintaan di pasar spot, terutama dari Amerika Serikat. Harga Bitcoin di bursa AS tercatat diperdagangkan dengan premium dibandingkan pasar global, mengindikasikan akumulasi oleh investor institusional.
Baca Juga
Bitcoin Kembali Naik ke Atas US$ 76.000 Saat Geopolitik & Sidang Senat Memanas
Peran korporasi turut memperkuat sentimen. MicroStrategy dilaporkan menambah kepemilikan sebanyak 34.164 BTC. Ketua perusahaan, Michael Saylor, bahkan mengusulkan peningkatan pembayaran dividen guna menarik minat investor.
Namun, di tengah reli tersebut, ketidakpastian global meningkat. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Donald Trump menunda tenggat negosiasi. Pemerintah AS juga mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk meninggalkan Lebanon.
Dalam pernyataan resmi Gedung Putih, disebutkan bahwa keputusan terkait gencatan senjata sepenuhnya berada di tangan Presiden. Hingga kini, belum ada kesepakatan baru antara kedua pihak.
Situasi tersebut meningkatkan risiko volatilitas di pasar keuangan global. Meski demikian, Bitcoin menunjukkan ketahanan di level tinggi, didukung perbaikan sentimen pasar yang tercermin dari kenaikan indeks ketakutan dan keserakahan kripto dari zona “ketakutan ekstrem”.
Baca Juga
Efek Warsh dan Trump, Bitcoin Sempat Melemah Lalu Balik Arah Pagi Ini
Di sisi lain, dukungan terhadap Bitcoin juga datang dari pejabat militer AS. Dalam sidang Kongres, Samuel Paparo menyebut teknologi proof-of-work pada Bitcoin memiliki potensi strategis dalam keamanan siber.
Analis menilai pasar kini berada pada fase krusial. Jika harga mampu bertahan di atas US$79.200 dalam waktu dekat, tren kenaikan berpotensi berlanjut. Namun, tanpa dukungan permintaan yang berkelanjutan, pergerakan harga diperkirakan akan cenderung terbatas dalam jangka pendek.
Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global, termasuk pertemuan Federal Reserve (FOMC) yang dapat menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan pasar.
Menilik data Coinmarketcap, Kamis (23/4/2026) pukul 96.45 WIB, harga Bitcoin tercatat berada di level US$ 78.290, naik sekitar 2,93% dalam sehari dan mencerminkan penguatan di tengah aktivitas pasar kripto yang meningkat. Data pasar menunjukkan kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai sekitar US$ 1,56 triliun, seiring dengan kenaikan harga dan meningkatnya minat investor. Sementara itu, volume perdagangan harian tercatat sebesar US$48,62 miliar, melonjak signifikan hingga 34,82% dalam periode yang sama.
Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar berada di kisaran 3,06%, mengindikasikan likuiditas yang cukup kuat di pasar. Di sisi lain, fully diluted valuation (FDV) Bitcoin tercatat sekitar US$ 1,64 triliun. Dari sisi suplai, total pasokan Bitcoin saat ini mencapai sekitar 20,01 juta BTC, mendekati batas maksimal 21 juta BTC. Sementara itu, kepemilikan dalam treasury tercatat sekitar 1,17 juta BTC.
Pergerakan harga dalam 24 jam terakhir menunjukkan tren kenaikan bertahap, dengan level terendah di kisaran US$ 75.590 sebelum akhirnya menguat hingga mendekati US$ 79.000. Kenaikan ini mencerminkan sentimen pasar yang relatif positif, dengan aktivitas perdagangan yang meningkat serta dukungan dari faktor teknikal dan permintaan yang tetap kuat di pasar global.

