Bagikan

IHSG Berpotensi Uji 7.774, Sejumlah Saham Ini Jadi Pilihan di Kuartal II-2026

Poin Penting

IHSG diproyeksi bergerak di rentang 7.346–7.774
Saham big caps dan komoditas jadi rekomendasi utama
Volatilitas pasar dinilai buka peluang akumulasi saham

JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak dalam rentang support 7.346–7.447 dan resistance 7.677–7.774 pada jangka pendek.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti sejumlah saham big caps yang dinilai menarik untuk diakumulasi pada kuartal II-2026, di antaranya ADRO, BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, serta EXCL.

“Selain itu, saham berbasis komoditas seperti ANTM, BRMS, UNTR, dan MDKA juga menarik, seiring kuatnya harga emas dan dinamika geopolitik global,” ujar Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji dalam diskusi daring, Selasa (21/4/2026).

Baca Juga

MSCI ‘Rem’ Saham RI: Reformasi Diakui, Tapi Dana Asing Masih Tertahan”

Secara sektoral, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Daniel Aditya Widjaja menyampaikan, kinerja operator telekomunikasi menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari ekspektasi. Hal ini tercermin dari average revenue per user (ARPU) dua operator utama, yakni Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) dan XLSmart (EXCL), yang mencatat rekor tertinggi pada kuartal IV-2025.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta saat ditemui di Jakarta, Rabu, (23/7/2025). FOTO:investortrust/Sivana Zahla.

Potensi pertumbuhan sektor ini juga didorong oleh bisnis GPU-as-a-Service (GPUaaS) yang mulai berkontribusi terhadap pendapatan ISAT, dengan estimasi kontribusi sekitar US$50–70 juta pada 2026.

Selain itu, rencana spin-off aset fiber Telkom dinilai berpotensi mendorong pembagian dividen spesial dengan estimasi yield sekitar 12–13% pada 2026.

Baca Juga

Mulia Boga (KEJU) Tebar Dividen Rp 16 per Saham, Rasio Segini

Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor telekomunikasi, dengan EXCL sebagai top pick yang didukung potensi pertumbuhan EBITDA sebesar 17,7% (yoy) pada 2026.

Di tengah volatilitas pasar, Nafan menilai kondisi ini justru membuka peluang bagi investor untuk masuk secara selektif. “Volatilitas membuka peluang melalui strategi berburu saham diskon dengan pendekatan value investing. Momentum dividen dan kinerja emiten dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama pada saham komoditas dan big caps,” jelasnya.

Geopolitik Global

Dari sisi makro, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menegaskan bahwa dinamika suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar pada kuartal II-2026.

Ketegangan geopolitik, termasuk di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan global, turut mendorong tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga

Kenaikan Laba Astra Otoparts (AUTO) Berlanjut di Kuartal I-2026, Pendapatan Tumbuh Segini

“Volatilitas merupakan bagian dari dinamika global, namun dengan fundamental domestik yang masih relatif terjaga, peluang investasi di pasar Indonesia masih terbuka,” ujar Rully.

Ia menambahkan, ruang pelonggaran suku bunga cenderung terbatas di tengah tekanan inflasi dan harga minyak, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diproyeksikan berada di kisaran 5% pada 2026.

Mirae Asset Sekuritas menyimpulkan bahwa volatilitas pasar tidak hanya menghadirkan risiko, tetapi juga peluang, yang dapat dimanfaatkan melalui strategi investasi yang tepat.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024