RI Bidik Pertumbuhan Ekonomi 8%, Rosan Ungkap Peluang Investasi di Sektor Energi dan Hilirisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada 2029. Untuk mencapainya, investasi berkualitas dan hilirisasi industri menjadi kunci utama, termasuk yang dilakukan holding pertambangan MIND ID.
Rosan memaparkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mencapainya target tersebut, dengan kebutuhan investasi sekitar 800 miliar dolar AS pada 2029.
“Kita harus menciptakan lapangan kerja berkualitas yang sejalan dengan investasi yang masuk,” ujar Rosan saat menyampaikan pidato kunci pada acara CNA Summit 2026 di The Ritz-Carlton, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, sektor energi terbarukan adalah salah satu yang paling menjanjikan. Dengan potensi 3.700 gigawatt energi terbarukan, yang didominasi oleh sumber daya geotermal dan surya, Indonesia masih memiliki kapasitas terpasang yang sangat rendah, yakni hanya 15,8 gigawatt. Ini membuka peluang investasi besar untuk mengembangkan infrastruktur energi yang berkelanjutan.
Baca Juga
Selain energi, Rosan juga menyoroti pentingnya sektor hilirisasi sumber daya alam. Indonesia, yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, telah menahan ekspor bijih nikel sejak 2016 untuk mendorong industri hilirisasi. “Kami sekarang memiliki ekosistem lengkap, mulai dari penambangan nikel hingga produksi baterai kendaraan listrik dan daur ulang baterai di dalam negeri,” jelasnya.
Lebih jauh, Rosan menambahkan bahwa hilirisasi juga meliputi sektor kelapa dan rumput laut yang memiliki potensi besar. Indonesia, yang merupakan produsen kelapa dan rumput laut terbesar kedua di dunia, kini mendorong investasi dalam pengolahan kelapa dan industri hilirisasi rumput laut untuk meningkatkan nilai tambah.
Meskipun menghadapi tantangan dalam pengembangan hilirisasi, Indonesia semakin memperkuat kebijakan untuk menarik investasi. “Kami terus menyederhanakan aturan dan regulasi untuk menciptakan iklim investasi yang lebih baik,” imbuh Rosan.
Sebagai gambaran, hilirisasi yang dilakukan MIND ID fokus pada peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri melalui pengolahan lanjutan, manufaktur, dan integrasi rantai pasok industri. Strateginya tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mengubahnya menjadi produk setengah jadi hingga produk industri.
Melalui entitas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Antam dan kerja sama industri, nikel diolah menjadi feronikel, nickel matte, hingga bahan baku baterai electrical vehicle (EV). Sementara produksi tembaga dari tambang diolah melalui smelter menjadi katoda tembaga sebagai bahan baku kabel, elektronik, dan manufaktur. Proyek smelter besar milik PT Freeport Indonesia memperkuat rantai nilai ini di dalam negeri.
Adapun bauksit tidak lagi hanya diekspor, tetapi diolah menjadi alumina lalu aluminium yang dipakai untuk konstruksi, otomotif, dan energi. Ini dijalankan antara lain oleh PT Indonesia Asahan Aluminium. Smeentara hilirisasi timah oleh PT Timah Tbk (TINS) diarahkan ke produk bernilai tinggi, seperti solder, bahan kimia timah, dan komponen industri elektronik. Sedangkan pengolahan emas dilakukan untuk menghasilkan bullion, mendukung cadangan nasional, serta memperkuat ekosistem industri keuangan berbasis emas.

