IHSG Menguat, Rupiah Melemah: Menkeu Sebut Ada Fenomena Menarik di Pasar
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi fenomena menarik di pasar keuangan domestik, yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat lebih dari 5,6% menembus level 9.100 sepanjang year to date (ytd), bandingkan dengan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang anjlok ke level terendah sepanjang masa Rp 16.981 per dolar AS .
Meskipun enggan menjelaskan detail terkait tekanan terhadap rupiah, Purbaya meyakini, rupiah akan menguat ke depan. Keyakinan ini didasari adanya aliran masuk modal asing melalui pasar modal.
Baca Juga
Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Masa, Ini Kata Menkeu Purbaya
"Rupiah nanti pelan-pelan akan menguat. Tidak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk. Ya kan? Makanya ada yang aneh kan? Anda tanya ke bank sentral," kata Purbaya di kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (20/1/2026).
Dia menegaskan bahwa arah fundamental ekonomi Indonesia saat ini justru berlawanan dengan pergerakan nilai tukar. Menurutnya, kondisi ini malah dapat menjadi daya tarik bagi investor. Mereka berpotensi memperoleh keuntungan dari pasar modal (capital gain) sekaligus keuntungan nilai tukar (forex gain) ketika rupiah bergerak kembali sejalan dengan fundamentalnya.
Secara tahunan, Purbaya menyebut, depresiasi rupiah masih berada di kisaran 2–3% year to date. Depresiasi ini dinilai masih dapat dikelola oleh dunia usaha, termasuk para importir, karena kenaikan biaya masih dalam batas kendali.
Lebih lanjut, Purbaya menekankan, pentingnya peran IHSG sebagai sinyal bagi investor dan pelaku usaha. Capaian IHSG yang menembus level di atas 9.100 menjadi bukti adanya perkembangan positif dalam perekonomian Indonesia.
Baca Juga
IHSG Ditutup di Zona Hijau Berkat Saham EMAS, ARA Bertebaran Dipimpin AWAN hingga RLCO
"Jadi kalau sebagian orang bilang IHSG tidak ada gunanya buat kita, tapi IHSG itu sinyal ke investor dan pelaku-pelaku bisnis di seluruh Indonesia di luar negeri bahwa ada perkembangan positif yang terjadi di sini," ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk mencermati peluang, bahkan sebagian telah mulai merealisasikan rencana investasinya di Indonesia. "Jadi prospek kita akan baik," ucap dia.
Sementara itu, dari sisi fiskal, Menkeu memastikan tekanan dolar AS terhadap rupiah untuk pembiayaan subsidi energi masih terkendali. Hal ini karena pergerakan nilai tukar dan harga minyak global masih berada di sekitar asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Dolarnya naik berapa? Tidak jauh beda dengan asumsi APBN kita, dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidi ini ya gampangnya relatif terkendali selama ini,” jelasnya.

