Bagikan

Dolar AS Perkasa, Rupiah Tertekan di Tengah Krisis Venezuela

Poin Penting

Rupiah melemah 0,12% ke level Rp 16.745 per US$ di tengah penguatan dolar AS.
Invasi AS ke Venezuela meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Kenaikan harga minyak berisiko menekan inflasi dan fiskal Indonesia.

JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (5/1/2026) seiring penguatan mata uang Negeri Paman Sam di pasar global, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat invasi AS ke Venezuela yang memicu sikap hati-hati pelaku pasar.

Nilai tukar rupiah melemah 0,12% berada di Rp 16.745 per dolar AS. Tekanan pada rupiah terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia dan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, bergerak menguat di posisi 98,68 pada pukul 09.52 WIB.

Penguatan dolar AS terlihat terhadap euro Uni Eropa sebesar 0,29% dan poundsterling Britania Raya sebesar 0,23%. Di kawasan Asia, dolar AS menekan yen Jepang sebesar 0,21%, ringgit Malaysia 0,33%, dolar Singapura 0,21%, serta rupee India 0,25%.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai, invasi AS ke Venezuela menambah lapisan baru ketidakpastian geopolitik global. Serangan tersebut berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan memicu reaksi keras dari berbagai negara serta institusi internasional. “Dengan kekhawatiran terkait kedaulatan negara, risiko eskalasi konflik, serta stabilitas kawasan,” kata Andry, Senin (5/1/2026).

Meski demikian, pasar mencermati bahwa kontribusi Venezuela terhadap pasokan minyak dunia relatif kecil. Negara tersebut hanya memproduksi kurang 1% dari total produksi minyak global. Pada saat yang sama, pasokan minyak dunia masih lebih tinggi dibandingkan permintaan akibat perlambatan ekonomi global, dan kondisi kelebihan pasokan ini diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026.

Baca Juga

Rupiah Menguat pada Selasa Pagi, Membalikkan Tren Pelemahan?

Dalam konteks tersebut, gangguan terhadap produksi minyak Venezuela dinilai hanya akan memicu volatilitas terbatas serta tekanan sementara terhadap harga minyak global. Namun, sentimen geopolitik tetap berpotensi memicu pergeseran sikap investor di pasar keuangan.

Akibat invasi ini, volatilitas pasar keuangan global diperkirakan meningkat. Pasar berpotensi bergerak ke arah risk off, dengan aliran modal mengalir ke aset aman, seperti emas dan obligasi Pemerintah AS, sementara pasar saham dan obligasi negara lain berisiko mengalami fluktuasi yang lebih tinggi.

“Bagi Indonesia, dampak utama diperkirakan terjadi melalui efek rambatan pasar keuangan atau spillover. Bukan melalui hubungan bilateral secara langsung, mengingat keterkaitan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Venezuela relatif kecil,” ujar dia.

Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia ke Venezuela selama 10 bulan pertama 2025 hanya mencapai US$ 68 juta atau kurang dari 0,1% dari total ekspor nasional. Produk ekspor Indonesia ke negara tersebut didominasi sepeda motor dan sabun. Sementara itu, impor Indonesia dari Venezuela berupa produk kakao dengan nilai sekitar US$ 14 juta pada periode yang sama.

Karyawan tempat penukaran uang asing (Money Changer) menghitung lembaran uang rupiah dan dolar di sebuah Money Changer di Makassar. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad

Investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) Venezuela ke Indonesia juga tercatat sangat terbatas. Nilai FDI Venezuela ke Indonesia hanya mencapai US$ 0,6 juta atau sekitar 0,02% dari total FDI yang berasal dari kawasan Amerika.

Menurut Andry, risiko utama yang perlu dicermati ke depan adalah pergerakan harga minyak global. Sebagai negara net importir minyak mentah, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik serta menekan surplus neraca perdagangan, yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.

Dari sisi fiskal, kenaikan harga minyak global akan mendorong peningkatan belanja subsidi dan kompensasi energi yang lebih besar dibandingkan tambahan penerimaan pajak dan royalti. Berdasarkan analisis sensitivitas fiskal, kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel dapat meningkatkan belanja subsidi dan kompensasi sekitar Rp 10,3 triliun, sementara tambahan penerimaan pajak dan royalti hanya sekitar Rp 3,5 triliun.

Baca Juga

Rupiah Menguat Jelang Pergantian Tahun

Apabila harga minyak bertahan di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar US$ 70 per barel, pemerintah berpotensi perlu menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dampaknya, tekanan inflasi domestik dapat meningkat.

“Berdasarkan estimasi kami, kenaikan harga Pertalite sebesar 10% akan meningkatkan inflasi sekitar 0,27 poin persentase, sedangkan kenaikan harga Solar sebesar 10% dapat menambah inflasi sekitar 0,05 poin persentase,” kata dia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024