Prabowo Pimpin Rapat Bahas Komoditas Migas untuk Alat Negosiasi Tarif Trump
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas (ratas) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/4/2025). Rapat tersebut membahas komoditas di sektor minyak dan gas (migas) yang dapat menjadi alat negosiasi untuk menurunkan tarif resiprokal yang diterapkan Presiden AS Donald Trump terhadap barang dari Indonesia.
Pemerintah berencana mengompensasikan nilai surplus perdagangan dengan AS yang besarannya mencapai US$ 18-19 miliar. Salah satunya dengan mengimpor komoditas migas dari AS.
"Saya rapat tadi dengan Bapak Presiden untuk memastikan komoditas apa saja yang akan kita lakukan, impor tambahan dari AS dalam rangka membuat keseimbangan neraca perdagangan kita," papar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seusai rapat dengan Prabowo di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/4/2025).
Baca Juga
'Update' Negosiasi Tarif Trump, RI Undang AS Investasi di Sektor Mineral Kritis
Bahlil mengatakan, untuk mencapai keseimbangan neraca perdagangan dengan AS, Indonesia akan mengimpor liquefied petroleum gas (LPG), minyak mentah atau crude oil, dan BBM.
"Salah satu strategi untuk kita membuat keseimbangan adalah kita membeli LPG, crude oil, dan BBM dari Amerika. Nilainya untuk bisa memberikan keseimbangan terhadap neraca perdagangan kita," katanya.
Bahlil mengatakan nilai impor migas dari AS akan mencapai lebih dari US$ 10 miliar. Dipaparkan, impor LPG dari AS akan ditingkatkan dari 54% menjadi 80 hingga 85%, kemudian minyak mentah yang sebelumnya sekitar 4% akan meningkat menjadi sekitar 40%.
"BBM juga demikian, BBM di Amerika itu kan sedikit sekali, nanti detailnya setelah saya akan melakukan pembahasan teknis dengan tim teknis dan Pertamina," katanya.
Dalam kesempatan ini, Bahlil memastikan peningkatan impor migas dari AS tidak akan memengaruhi kuota impor dan membebani APBN. Hal ini lantaran pemerintah hanya mengalihkan impor yang sebelumnya dari negara Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara ke AS.
"Ini kita switch saja, kita pindah saja ke Amerika, dan itu tidak membebani APBN dan juga tidak menambah kuota impor kita," tegasnya.
Baca Juga
Bahlil juga meyakini rencana ini tidak berdampak pada perdagangan Indonesia dengan negara pengimpor sebelumnya. Hal ini karena Indonesia tidak memiliki kewajiban untuk membeli barang dari negara tertentu. Namun, Bahlil menekankan, rencana ini tergantung dari proses negosiasi yang tengah berlangsung.
Saat ini, penawaran dari Indonesia tersebut sedang dirundingkan oleh tim negosiasi yang dipimpin Menko Perekonomian dengan pemerintah AS. Bahlil berharap tawaran Indonesia akan diterima AS.
"Ini kan bagian daripada bagaimana membangun keseimbangan. Kalau dengan harapan neraca perdagangan kita sudah seimbang, bahkan mungkin bisa mereka surplus, katakanlah kalau itu terjadi, harapannya tarifnya diturunkan dong. Kalau tidak diturunkan untuk apa?" katanya.

