Pemerintah Targetkan Emisi SBN Neto Rp 642,5 Triliun pada 2025
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menyebutkan target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto untuk kebutuhan pembiayaan APBN 2025 mencapai Rp 642,5 triliun.
“Yang dari SBN Rp 642,5 triliun,” kata Suminto saat konferensi pers APBN KiTA 2024, di Jakarta, Senin (6/1/2025).
Penerbitan SBN ini bertujuan untuk menutup defisit APBN 2025 yang dipatok maksimal 2,53% dari PDB. “Itu setara dengan Rp 616,19 triliun,” kata dia.
Baca Juga
Thomas Djiwandono: Pasar Tetap Terkendali, Bid to Cover Ratio SBN 2,3 Kali
Dari total angka defisit tersebut, pemerintah akan melakukan bauran pembiayaan utang dan non-utang. Untuk pembiayaan non-utang, minus Rp 159,7 triliun sebagai faktor pengurang. “Sehingga pembiayaan utangnya Rp 775,87 triliun yang terdiri atas SBN Rp 642,5 triliun dan pinjaman (neto) Rp 133,31 triliun,” kata dia.
Total penerbitan SBN pada 2025 ini lebih rendah dari penerbitan SBN 2024 mencapai Rp 666,64 triliun. Sedangkan untuk pinjaman neto naik hampir Rp 18,4 triliun dari target tahun 2024. Pinjaman sebesar Rp 133,31 triliun tersebut terdiri atas pinjaman dalam negeri neto sebesar Rp 5,17 triliun dan pinjaman luar negeri neto sebesar Rp 128,13 triliun.
Pinjaman dalam negeri yang ditarik pemerintah pada 2025 ditargetkan Rp 11,77 triliun. Angka penarikan pinjaman dalam negeri bruto tersebut terdiri atas pembayaran cicilan pokok sebesar Rp 6,6 triliun. Sehingga, pinjaman dalam negeri neto sebesar Rp 5,17 triliun.
Baca Juga
Perry Pertahankan BI Rate 6%, Siap Beli SBN Rp 150 Triliun Lebih, Net Inflow Mulai Terjadi
Sementara itu, dari sisi pinjaman luar negeri bruto, pemerintah menarik Rp 216,49 triliun. Utang ini terdiri dari pijaman luar negeri neto sebesar Rp 128,13 triliun dan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp 88,36 triliun.
Selain penarikan utang, Suminto mengatakan sebagai antisipasi dan pembiayaan utang terkelola dengan baik, pemerintah menyiapkan prefunding sebesar Rp 85,9 triliun. Penempatan prefunding ini dilakukan untuk mengurangi issuance pada 2025.
Baca Juga
Siap-siap! Awal Tahun Pemerintah Lelang 8 Seri SUN untuk Pembiayaan APBN 2025
“Kemudian juga pemerintah dan Bank Indonesia sudah sepakat untuk melakukan penukaran utang atas SBN pembiayaan Covid-19 yang dibeli oleh BI yang jatuh tempo di 2025 sebesar Rp 100 triliun dan itu tentu juga akan mengurangi issuance di primary market,” ujar dia.
Suminto menjelaskan, APBN 2024 juga memiliki Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp 45,4 triliun. “Dan tentunya masih ada sisa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang dalam hal nanti diperlukan dapat digunakan. Itu merupakan bantalan-bantalan yang dapat kita gunakan dan punya untuk 2025,” ucap dia.

