Lolos dari Tekanan, Pendapatan Negara 2024 Terkerek 2,1%
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pendapatan negara naik 2,1% ke Rp 2.842,5 triliun tahun 2024 dibanding tahun 2023. Sementara itu, realisasi belanja negara melonjak 7,3% ke Rp 3.350,3 triliun dibanding tahun 2023.
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 juga sesuai target 2,29% dari produk domestik bruro (PDB). Menkeu menjelaskan sempat memproyeksikan defisit lebih tinggi saat terjadi tekanan ekonomi pada semester I-2024.
Sri Mulyani mengatakan, defisit APBN 2024 awalnya dirancang 2,29% dari PDB, lalu terjadi kenaikan proyeksi saat menyampaikan laporan semester (lapsem) I di DPR. “Saat itu, kami menyampaikan kepada DPR bahwa defisit APBN 2024 yang didesain atau dirancang 2,29% dari PDB akan mengalami defisit 2,7% dari PDB,” kata Menkeu saat konferensi pers APBN Kita, di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jakarta, Senin (6/1/2025).
Baca Juga
5 Penyakit Menular Perlu Diwaspadai 2025, Dunia Lebih Siap Hadapi Pandemi Baru?
Ia menjelaskan realisasi defisit APBN 2024 sebesar Rp 507,8 triliun. Sedangkan defisit keseimbangan primer senilai Rp 19,4 triliun.
"Sedangkan Silpa (sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan, yaitu selisih antara defisit/surplus anggaran dengan pembiayaan neto) sebesar Rp 45 triliun," ujar mantan Managing Director Bank Dunia itu.
Tekanan El Nino
Menkeu menuturkan lebih lanjut, salah satu tekanan luar biasa pada semester I-2024 dipicu fenomena El Nino yang mulai terjadi sejak Desember 2023. Sri Mulyani mengatakan dampak El Nino menciptakan kekeringan panjang yang meningkatkan harga pangan dunia.
“Di Indonesia sendiri, inflasi gara-gara volatile food itu meningkat. Di semester I-2024, inflasi sudah di atas asumsi yaitu 3,1%,” kata dia.
Di sisi lain, ketidakpastian global serta kenaikan harga pangan dan harga bahan bakar minyak (BBM) menyebabkan The Fed memberikan sinyal penurunan Fed Funds Rate (FFR) akan lebih kecil. Hal ini menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Sehingga rupiah terdepresiasi cukup tajam. Rupiah terdepresiasi dari sebelumnya Rp 15.415/USD pada Desember 2023, menjadi Rp 16.421/USD pada Juni,” ujar dia.
Baca Juga
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan akibat kondisi higher for longer FFR yang menyebabkan capital ouflow di emergimg markets termasuk Indonesia. Ini terlihat dari penurunan IHSG yang sempat tercatat 7.272,8 pada Desember 2023 menjadi 7.063,6 pada Juni 2024.
“Surat Berharga Negara (SBN) kita mengalami yield tertinggi pada semester I-2024 pada April dan Juni hingga mencapai 7,2%. Padahal, yield SBN 10 tahun sebelumnya masih di 6,5% atau naik 700 basis poin (bps)” kata dia.
Kondisi ini juga menyebabkan tekanan yang besar terhadap harga komoditas unggulan. Sehingga, penerimaan negara mengalami kontraksi 6,25% secara tahunan.
“Jadi bukannya tumbuh tapi mengalami tekanan,” ujar dia.
Kondisi Semester II-2024
Meski demikian, kondisi tekanan ekonomi global mereda pada semester II-2024. Sri Mulyani mengatakan, walaupun eskalasi perang tidak turun, namun tekanan harga minyak mereda.
“Sementara itu, harga komoditas penting seperti batu bara, nikel, dan CPO (minyak sawit mentah) di semester II-2024 mulai pulih. Tekanan mereda dan mengalami perbaikan harga,” kata dia.
Kondisi ini didukung oleh stimulus Cina, negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia dan tujuan ekspor terbesar Indonesia. Menurut Sri Mulyani, hal itu juga mengubah tekanan di perekonomian domestik.
“Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG mulai mereda. IHSG membaik dari posisi Juni 2024 sebesar 7.063,6 menjadi 7.079,9 pada Desember 2024,” ujar dia.
Indikator lain yang memperlihatkan menurunnya tekanan ekonomi global yaitu meredanya yield SBN yang turun ke 7% pada Desember 2024. Selain itu, inflasi masuk dalam rentang target 1,57% year on year pada 2024.
Pada akhir tahun, kata Menkeu, depresiasi rupiah mereda ke Rp 16.162/USD pada Desember 2024. “Penerimaan negara juga mengalami turning around dengan adanya pertumbuhan 2,1% secara tahunan,” ujar dia.
Dengan kondisi ini, defisit yang awalnya diproyeksi naik mencapai 2,7% dari PDB tidak terjadi. "Akhirnya, realisasi defisit 2,29% dari PDB sesuai dari target APBN 2024. Ini juga karena adanya efisiensi belanja sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. APBN pada akhirnya terjaga. Defisit turun pada level yang sama pada defisit yang kita desain awal 2,29% dari PDB,” tandas dia.

