BI Genjot Strategi Pro Market Demi Perkuat Nilai Tukar Rupiah
JAKARTA, Investortrust.id - Bank Indonesia (BI) menggenjot strategi pro-market untuk meningkatkan aliran modal yang masuk ke Indonesia. Strategi ini dilakukan melalui inovasi instrumen Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).
“Bank Indonesia merencanakan penerbitan SUVBI dengan lelang perdana pada 28 November 2023,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Kantor BI, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2023).
Baca Juga
BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Global 2024 Melambat Jadi 2,8%
Perry mengatakan rencana penerbitan SUVBI didasari keberhasilan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) sebagai instrumen moneter valas dengan lelang perdana pada 21 November 2023. Dia menyebut pasar menyambut baik penerbitan SVBI dengan tingginya penawaran sebesar US$ 266,5 juta.
“Lebih tinggi dibandingkan dengan target indikatif lelang sebesar US$ 200 juta,” kata dia.
Selain mengandalkan SVBI dan SUVBI, BI juga mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Baca Juga
BI: Kredit Perbankan Tumbuh 8,99% dan Bisa Capai 11% Akhir Tahun
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, SRBI per November 2023 telah mencapai outstanding sebesar Rp 178,8 triliun. Dari total angka itu, sekitar 30% telah diperdagangkan di pasar sekunder.
“Setara dengan Rp 50 triliun,” ucap Destry.
Destry mengatakan capaian itu juga mampu menarik inflow dana asing sekitar Rp 27 triliun atau 15,2%.
Destry mengatakan pembentukan ekosistem transaksi rupiah tanpa mata uang asing dengan local currency transaction (LCT). Pemanfaatan LCT atau yang dikenal sebagai local currency settlement (LCS) per Oktober 2023 transaksinya telah mencapai US$ 5,4 miliar. Adapun dari TD DHE nilai outstanding-nya telah mencapai US$ 2,2 miliar. (CR-7)

