Tak Ada Urgensi, Ekonom UI Prediksi BI Tahan Suku Bunga Bulan Ini
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky memperkirakan bahwa Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan pada Juli 2024. Pandangan ini disampaikan jelang keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Juli 2024.
“Kami berpandangan BI perlu menahan suku bunga acuannya di 6,25% bulan ini,” kata Riefky dalam laporan Seri Analisis Makroekonomi RDG BI Juli 2024, Selasa (16/7/2024).
Meski demikian, Riefky mengatakan BI tetap perlu waspada dalam merumuskan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan tingkat harga domestik. “Untuk saat ini, inflasi cenderung bukanlah isu yang mendesak dan perbedaan tingkat suku bunga masih cenderung atraktif untuk menarik modal masuk,” kata dia.
Baca Juga
OJK: Peningkatan Suku Bunga Global Berdampak Variasi ke Perbankan Indonesia
Dia mengatakan, minat investor terhadap pasar keuangan Indonesia secara keseluruhan membaik yang ditunjukkan dengan nilai premi credit default swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun yang turun ke 71,72 di 12 Juli dari 78,17 di akhir bulan lalu. Arus modal masuk cenderung membawa dampak baik ke Indonesia dengan turunnya tekanan pada Mata Uang Garuda.
“Dengan US$ Dollar Index (DXY) yang turun ke titik terendahnya dalam selama tiga minggu terakhir, rupiah mengalami apresiasi yang cukup signifikan. Rupiah saat ini tercatat sekitar Rp 16.110/US$, menguat sekitar 2,23% dalam sebulan terakhir,” kata dia.
Riefky mengatakan, sejak awal tahun rupiah tercatat melemah sebesar 4,65% (ytd) dan memiliki performa yang lebih baik ketimbang mata uang negara sejenis, termasuk Peso Argentina, Lira Turki, Peso Filipina, dan Baht Thailand.
Baca Juga
Indonesia juga memiliki catatan positif cadangan devisa yang meningkat sekitar US$ 1,2 miliar, dari US$ 138,97 miliar di Mei ke US$ 130,18 miliar di Juni 2024. Kenaikan cadangan ini dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah menyusul kebutuhan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah di bulan lalu.
Sehingga, kata dia, posisi cadangan devisa di Juni 2024 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh lebih tinggi dari standar kecukupan internasional yaitu sebesar tiga bulan impor.

