Bahana Sekuritas: Operasi Moneter BI Ikut Kerek Cadangan Devisa
JAKARTA, investortrust.id - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2024 tercatat sebesar US$ 140,2 miliar, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Mei 2024 sebesar US$ 139,0 miliar. Analisis Bahana Sekuritas mencermati bahwa peningkatan cadangan devisa tersebut tidak hanya berasal dari aliran obligasi dan surplus perdagangan, namun juga hasil operasi moneter.
“Dengan cadangan devisa yang meningkat menjadi US$140,2 miliar pada bulan Juni, perhitungan kami menunjukkan bahwa US$ 1,9 miliar sebenarnya berasal dari operasi moneter bersih BI termasuk FX swap, DHE dalam dolar, SRBI, dan SVBI,” tulis Head of Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro dan Ekonom Bahana Sekuritas Drewya C dalam risetnya yang dikutip Senin (8/7/2024).
Baca Juga
Angka tersebut dihitung dengan menelusuri dolar yang diserap dalam swap BI terhadap DHE (Devisa Hasil Ekspor), dan SVBI (Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia) dalam penawaran yang dilakukan BI, dikurangi dengan instrumen yang jatuh tempo pada bulan Juni. Sehingga untuk SRBI (Sertifikat Rupiah Bank Indonesia), Bahana memperkirakan 13% dari penjualan SRBI diberikan kepada investor baru di luar negeri (sehingga terjadi aliran masuk dolar baru) dikomparasikan dengan asumsi BI yang menyatakan bahwa kepemilikan asing sebesar 27%.
Bahana memproyeksi bahwa titik tekanan berikutnya bagi cadangan devisa BI dan rupiah berada pada bulan September-Oktober, ketika obligasi valas (valuta asing) sebesar US$ 5,6 miliar dan SRBI sebesar Rp97 triliun akan jatuh tempo pada periode tersebut.
“Jumlah tersebut berasal dari sukuk global pemerintah senilai US$ 3 miliar yang diterbitkan pada tahun 2014 dan 2019, serta obligasi korporasi FX senilai US$ 2,6 miliar dari PT Pelindo, ADRO, dan INKP, masing-masing dijual pada tahun 2014, 2019, dan 2021,” tulisnya.
Sebagai catatan, Bank Indonesia mengatakan kenaikan posisi cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Baca Juga
Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depannya, BI memandang cadangan devisa akan tetap memadai, didukung sinergi respons bauran kebijakan yang ditempuh BI dan Pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2024 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono yang dikutip Senin (8/7/2024). (CR-4)

