Kembali Menguat, Rupiah Keluar dari 16.400/USD
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah kembali terpantau menguat dalam penutupan perdagangan Selasa (25/6/2024) sehingga dapat keluar dari 16.400/USD. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mata uang Garuda menguat 52 poin ke level Rp 16.379/USD setelah sebelumnya berada di posisi Rp 16.431/USD.
Hal yang sama juga terjadi dalam pantauan pasar valas. Dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 15.00 WIB nilai tukar rupiah bergerak menguat 19 poin ke level Rp 16.370/USD dari posisi penutupan sebelumnya yang berada pada level Rp 16.389/USD.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, nilai tukar rupiah yang bergerak menguat terhadap indeks dolar Amerika Serikat (DXY) tidak lepas dari kondisi fundamental ekonomi negara tersebut. Ia berujar meskipun rilis inflasi Amerika Serikat (AS) pada Mei cukup baik, namun data itu masih menunjukkan tekanan harga yang relatif masih tinggi.
Baca Juga
Rupiah Anjlok, Beban Impor Bahan Baku Industri Makanan Minuman Bisa Capai Rp 500 Triliun
"Indeks manajer pembelian yang kuat di bulan Juni juga memicu kekhawatiran bahwa kekuatan ekonomi AS akan mempertahankan suku bunga tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (25/6/2024).
Kemudian ia mengatakan saat ini pasar akan mengalihkan fokus pada data indeks harga PCE, yang merupakan ukuran inflasi pilihan Federal Reserve. Adapun data itu akan rilis pada Jumat (28/6/2024) waktu setempat.
"Diperkirakan akan menunjukkan inflasi sedikit mereda namun tetap jauh di atas target tahunan bank sentral sebesar 2%," ucapnya.
Baca Juga
Harapan Penurunan FFR Meningkat, Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.354/USD
Selain itu analis PT Laba Forexindo Berjangka tersebut juga menyorot soal kondisi ekonomi China. Diketahui sejumlah menteri China tengah terlibat dalam dialog dengan pejabat Jerman mengenai potensi pengurangan atau bahkan pencabutan tarif, yang akan diberlakukan mulai Juli. Namun di satu sisi, Kanada tengah mempertimbangkan pembatasan impor kendaraan listrik dari China untuk kemudian bergabung dengan AS dan Uni Eropa.
"Langkah seperti itu dapat memperburuk hubungan yang sudah tegang antara China dan negara-negara Barat," katanya.
Disebut oleh Ibrahim kekhawatiran terhadap China telah menjadi beban utama sentimen terhadap pasar Asia dalam beberapa sesi terakhir, terutama jika negara tersebut meningkatkan ketegangan perdagangan dengan negara-negara besar lainnya.

