Tergelincir Tipis, Rupiah Ditutup di Rp 15.980/USD Senin
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam penutupan perdagangan Senin (20/5/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah tergelincir tipis dua poin di level Rp 15.980/USD, usai sebelumnya berada pada posisi Rp 15.978 akhir pekan lalu (17/5/2024).
Pada perdagangan spot antarbank yang dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 15.30 WIB, rupiah bergerak melemah ke level Rp 15.969/USD. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda sempat bertengger di posisi Rp 15.949/USD.
Menurut analis rupiah yang juga Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, kondisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) turut berdampak terhadap kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia. Ini termasuk pada performa kurs rupiah di pasar spot.
"Banyak ekonom memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar pada kuartal I 2024. Kondisi itu berpeluang terjadi seiring dengan surplus neraca perdagangan yang menyusut," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (20/5/2024).
Transaksi Berjalan Defisit
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menilai, transaksi berjalan mencatatkan defisit rendah, di tengah kondisi perlambatan ekonomi global. Pada triwulan I 2024, transaksi berjalan tercatat defisit 2,2 miliar dolar AS atau 0,6% dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan defisit 1,1 miliar dolar AS (0,3% dari PDB) pada triwulan IV 2023.
Dalam keterangannya, Ibrahim menjelaskan, pelebaran defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan yang menurun. Surplus merosot dari US$ 12,11 miliar pada Januari-Maret 2023 menjadi US$ 7,41 miliar di Januari-Maret 2024.
"Adapun sepanjang tahun 2023, transaksi berjalan mencatatkan defisit sebesar US$ 1,6 miliar atau 0,1% dari PDB, setelah membukukan surplus sebesar US$ 13,2 miliar atau 1,0% dari PDB pada 2022. Defisit transaksi berjalan akan tetap terkendali pada 2024, menjadi 0,75% dari PDB," paparnya.
Ia menambahkan, ekspektasi itu didorong oleh sejumlah faktor, termasuk normalisasi harga komoditas secara bertahap. Selain itu, permintaan domestik solid, sejalan dengan prospek ekonomi domestik yang positif.
Performa kurs mata uang rupiah juga dipengaruhi oleh stabilnya pergerakan indeks dolar AS. Hal ini didukung data minggu lalu yang menunjukkan harga konsumen AS untuk bulan April menurun.
Ibrahim menyebutkan, rilis data harga kosumen AS bulan April 2024 menyebabkan pasar memprakirakan The Fed akan memangkas Fed Funds Rate hingga 50 basis poin (bps), atau setidaknya dua kali penurunan suku bunga tahun ini. "Berbagai pejabat The Fed telah memberikan peringatan tentang kapan suku bunga mungkin turun," sebutnya.
Ia juga menuturkan, pelaku pasar bertaruh pada pelonggaran sebesar 46 bps pada tahun ini, dan hanya penurunan suku bunga pada bulan November yang sudah diperhitungkan sepenuhnya. Kemudian yang menjadi catatan, pelaku pasar mengalihkan fokus pada laporan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), ukuran inflasi pilihan The Fed yang akan dirilis pada tanggal 31 Mei 2024.
"Pasar juga akan fokus pada risalah pertemuan terakhir The Fed yang dijadwalkan pada hari Rabu," ucapnya.
Pada perdagangan esok hari (21/5/2024), analis PT Laba Forexindo Berjangka itu memprakirakan rupiah akan bergerak fluktuatif, namun akan ditutup melemah di kisaran Rp 15.960-16.030/USD.

