JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah akhirnya berhasil rebound terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda ditutup menguat pada perdagangan Rabu (24/4/2024).


Berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), mata uang rupiah ditutup menguat 83 poin ke level Rp 16.161/USD pada penutupan perdagangan valas Rabu (24/4/2024). Sementara dalam pantuan perdagangan spot antarbank hingga pukul 16.30 WIB Rabu yang dilansir Yahoo Finance, rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar AS dengan bertengger di level Rp 16.150/USD. Sebelumnya, rupiah ditutup pada posisi Rp 16.214/USD kemarin (23/4/2024).
 
 
Menguatnya rupiah ini sekaligus menyambut penetapan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) sebagai pasangan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2024-2029 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pagi tadi. Prabowo-Gibran melenggang sebagai pemenang pemilihan presiden (pilpres) 2024 usai meraup perolehan suara sebanyak 96,21 juta (58,59%).
 
Sebelum penetapan presiden dan wakil presiden terpilih, majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) pada Senin (22/4/2024) lalu telah membacakan putusan yang menolak semua gugatan terhadap perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) oleh pemohon pasangan peserta pilpres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
 
Menurut analis rupiah yang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, kepastian pilpres yang berlangsung aman dan berjalan dalam satu putaran memberikan dampak positif terhadap pergerakan mata uang rupiah. "Hal ini terbukti sejak putusan MK pada Senin hingga hari ini, rupiah terpantau secara konsisten mengalami penguatan walaupun penguatannya belum dibawah Rp 16.000/USD," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (24/4/2024).
 

Pantauan Ekonomi AS
Sementara itu, indeks dolar AS dan indeks dolar berjangka sedikit bergerak di perdagangan Asia, setelah turun tajam pada hari Selasa (23/4) lalu. Ini karena data indeks manajer pembelian menunjukkan kelemahan tak terduga dalam aktivitas bisnis AS. Namun, dolar AS mempertahankan sebagian besar kenaikannya sejauh ini pada bulan April, karena para pedagang tidak memperhitungkan ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal oleh Federal Reserve.
 
"Fokus pasar kini tertuju pada data ekonomi AS yang akan datang, yang berpotensi memberikan lebih banyak petunjuk mengenai suku bunga," tutur Ibrahim.
 
 

Data produk domestik bruto AS kuartal pertama akan dirilis pada hari Kamis depan, sementara data indeks harga PCE yang menjadi alat pengukur inflasi pilihan The Fed  akan dirilis pada hari Jumat nanti. Indikator-indikator terbaru yang menunjukkan inflasi AS yang tinggi menyebabkan pasar mengabaikan ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan Juni mendatang.
 
Kemudian, di Asia, pasar mencermati rencana Bank of Japan mengadakan pertemuan untuk penetapan kebijakan terbaru pada hari Jumat (26/4) mendatang. Bank sentral Jepang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, setelah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam 17 tahun pada Maret lalu.
 
Sementara di Eropa, Bank of England diperkirakan akan menurunkan suku bunga setidaknya setengah poin persentase tahun ini, dengan pemotongan pertama dilakukan pada bulan Juni atau Agustus mendatang.
 

BI Rate Naik Jadi 6,25%
Beberapa saat lalu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode 23-24 April 2024 tercatat menetapkan kenaikan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 bps, menjadi 6,25%. Kenaikan BI Rate ini dinilai analis sebagai respons atas anjloknya nilai tukar rupiah.
 
"Keputusan menaikkan suku bunga untuk memperkuat stabilitas rupiah dari kemungkinan memburuknya risiko global, serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025," ungkap Ibrahim.
 
Dalam RDG tersebut, BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility naik sebesar 25 bps menjadi 5,50% dan suku bunga Lending Facility naik sebesar 25 bps ke 7,00%. Sebelumnya, suku bunga acuan BI bertahan 6% sejak Oktober 2023 atau selama enam bulan. Saat itu, RDG BI pada Oktober tahun lalu memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%.
 
Ekonom Senior Center of Reform on Economics (Core) Hendri Saparini turut merespons kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps. Ia berharap agar kenaikan BI rate tidak direspons dengan melemahnya daya beli masyarakat dan pergerakan makroekonomi secara keseluruhan.
 
"Menurut saya, BI tidak perlu terlalu reaktif. Ini karena dampak kenaikan suku bunga lebih signifkan," katanya dalam pesan singkat kepada Investortrust.id, Rabu (24/4/2024).