Ekonom LPEM UI: Menaikkan BI Rate Bukan Keputusan Ideal
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky meyakini Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan posisi BI Rate di angka 6%.
"Walaupun terdapat ruang untuk kenaikan suku bunga acuan, keputusan menaikkan BI Rate nampaknya bukanlah langkah ideal yang perlu diambil saat ini," kata Riefky dalam keterangan resmi yang dibagikan ke Investortrust.id, Selasa (23/4/2024).
Riefky beralasan, meski nilai tukar rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama dua pekan terakhir, posisi Mata Uang Garuda sudah mulai stabil. Rupiah, kata dia, telah berada di level kenormalan baru yaitu sekitar Rp 16.200 per US$ 1 seiring dengan sentimen ‘high-for-longer’ yang sudah mulai termaterialisasi dan belum adanya eskalasi lebih lanjut dari konflik di Timur Tengah.
Baca Juga
Ekonom Core: Banyak Aspek yang Membuat BI Perlu Mempertahankan Suku Bunga Acuan
Riefky mengatakan BI juga memiliki beberapa alternatif kebijakan yang dapat dioptimalisasi dengan dukungan cadangan devisa yang memadai.
Saat ini, cadangan devisa Indonesia menurun sebesar US$ 3,6 miliar dari US$ 144,0 miliar di Februari 2024 ke US$ 140,4 miliar di Maret 2024. Ini didorong oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah, antisipasi kebutuhan likuiditas valuta asing korporasi, dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian kondisi keuangan global.
"Namun, tingkat cadangan devisa masih terhitung tinggi. Besaran cadangan devisa saat ini setara dengan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor," kata dia.
Baca Juga
Riefky mengatakan kondisi cadangan devisa saat ini memberikan BI ruang yang cukup untuk melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, menaikkan suku bunga akan meningkatkan biaya pinjaman dan berdampak negatif terhadap sektor riil. Sehingga, peningkatan BI Rate dapat dipertimbangkan sebagai opsi terakhir menimbang potensi risiko domestik yang akan muncul.
Sejauh ini, rupiah terdepresiasi sekitar 2,8% secara bulanan (mom) atau 5,5% hingga tanggal ini (ytd) terhadap dolar AS. "Rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk dibandingkan negara peers dan hanya lebih baik dari Lira Brazil dalam satu bulan terakhir," ujar dia.

