Meski Rupiah dalam Tren Pelemahan, Ekonomi Indonesia Jauh dari Potensi Krisis
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemahpada perdagangan Selasa (27/02/2024) pagi. Mata uang Garuda turun 17 poin atau 0,11% menjadi Rp15.647 per dolar AS dari penutupan perdagangan sebelumnya yang sebesar Rp15.630 per dolar AS.
Meski rupiah masih dalam posisi menghadapi tren pelemahan terhadap dolar, pengamat rupiah Ibrahim Assuaibi menilai stabilitas ekonomi nasional masih dalam ambang batas aman. Menurut Ibrahim, Indonesia masih jauh dari potensi krisis ekonomi.
"Indonesia jauh dari potensi krisis ekonomi, bahkan kemungkinan potensi krisis tersebut juga sangat kecil, masih di bawah 5%, walaupun kenaikan harga beberapa barang yang disebut memicu krisis perekonomian Indonesia. Beberapa kenaikan barang baik BBM dan listrik tidak semuanya benar," ucapnya dikutip Selasa (27/02/2024).
Baca Juga
Ia melihat untuk peluang kenaikan harga BBM, BBM jenis RON 90 atau Pertalite masih akan dipertahankan di level saat ini. Namun ia menambahkan sekalipun terdapat kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional, ini akan lebih memengaruhi BBM non subsidi yang volume atau konsumsinya terhadap total keseluruhan cenderung terbatas.
"Sehingga sekalipun ada kenaikan inflasi yang disebabkan oleh harga BBM non subsidi, dampaknya tidak akan signifikan," tuturnya.
Sementara itu terkait dengan harga beras, ia melihat terdapat kecenderungan harga masih akan dipengaruhi oleh faktor El Nino. Untuk itu pihaknya melihat inflasi bulan Februari 2024 yang akan dirilis BPS di awal Maret, ada kecenderungan inflasi pangan masih relatif tinggi.
Baca Juga
Pengamat Ekonomi: Ekonomi Indonesia Kuartal-I 2024 Hadapi Sejumlah Tantangan Ini
"Namun secara keseluruhan dan sesuai konsensus, inflasi pangan ataupun inflasi secara keseluruhan masih tetap terjaga di bawah 3%," tandasnya.

