Eks Menkeu Sebut Alarm Penuaan Populasi Indonesia Mulai Berdering
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Kabinet Kerja, Bambang Brodjonegoro menyebut Indonesia harus berpacu dengan waktu untuk keluar dari jebakan kelas menengah atau middle income trap. Sebab, bonus demografi yang dimiliki Indonesia perlahan mulai menunjukkan penurunan.
“Saat ini, kita masih dalam kondisi yang relatif baik karena setidaknya Indonesia belum memasuki fase penuaan penduduk,” kata Bambang, saat Biennial Policy Conference 2026, Asia-Pacific Central Bank Conference, dipantau daring, Kamis (27/8/2026).
Meski demikian, Dekan Asian Development Bank Institute ini menyatakan bahwa tanda-tanda fase penuaan dan penurunan fertilitas ini sudah mulai terlihat. Menurut Bambang, meskipun tingkat fertilitas total Indonesia berada di sekitar 2,2 pada 2025, namun penurunan fertilitas sudah terjadi di Pulau Jawa, pulau dengan populasi penduduk terbesar di Indonesia.
“Angkanya sudah berada di bawah 2. Artinya, Pulau Jawa mungkin mulai mengalami penuaan penduduk,” kata dia.
Bambang melihat fase penunaan penduduk bersifat “menular”. Setelah pertama kali muncul di Jepang, fase penuaan penduduk juga terjadi di Korea Selatan, China, dan kini masuk ke Asia Tenggara.
Baca Juga
Seperti Jepang dan Korsel, Indonesia Harus Manfaatkan Bonus Demografi Sebelum Masuki Usia Penuaan
“Tiba-tiba, negara tetangga kita, seperti Thailand dan Filipina mulai mengalami penuaan penduduk dengan cepat, sementara mereka masih cukup jauh untuk menjadi negara berpendapatan tinggi,” kata dia.
Menurut Bambang, bonus demografi saat ini cenderung berakhir lebih singkat dan lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Dia menyebut 1,3 miliar penduduk di Asia dan Pasifik akan berusia 60 tahun atau lebih pada 2050.
“Artinya sekitar satu dari empat orang, atau 25% akan berusia 60 tahun atau lebih. Dan tentu saja, kita tidak bisa mengharapkan kelompok penduduk tersebut tetap produktif,” kata dia.
Negara-negara Asia perlu kembali belajar dari Jepang, Korea, dan China. Tiga negara tersebut dapat memanfaatkan peluang untuk tumbuh lebih cepat dalam periode yang relatif singkat.
“Artinya, mereka benar-benar berpacu dengan batas yang ada, batas yang disebut berakhirnya bonus demografi,” jelas dia.
Untuk itulah, pembicaraan tentang pengembangan akal imitasi atau AI jauh lebih relevan bagi masyarakat di wilayah Asia.
“Kita tidak pernah menyadari bahwa transformasi digital tersebut akan menjadi arus utama pertumbuhan ekonomi di masa depan,” ucap dia.
