Kadin Indonesia: Dunia Usaha Harapkan Insentif Fiskal yang Tepat Sasaran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap pemerintah memberikan insentif fiskal yang lebih tepat sasaran pada kuartal II-2026. Insentif fiskal yang tepat sasaran diperlukan untuk menstimulasi dunia usaha agar tetap survive sehingga mampu menyarap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan survei yang dibuat Kadin Indonesia, terjadi penurunan kepercayaan dunia usaha terhadap insentif fiskal yang diberikan pemerintah. Namun, pelaku usaha yakin kondisi bisnis akan membaik pada kuartal II-2026.
Perbaikan kondisi bisnis dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat sebesar 39,5%. Hal ini menunjukkan bahwa arah dan konsistensi kebijakan nasional tetap menjadi faktor utama dalam membentuk ekspektasi pelaku usaha, terutama melalui stabilitas harga energi, peningkatan mandatori biodiesel dari B40 ke B50, serta peningkatan belanja negara sebagai stimulus fiskal.
Baca Juga
Survei Kadin Ungkap Ketegangan Geopolitik Tekan Sentimen Bisnis Nasional di Kuartal I-2026
Di sisi lain, terjadi penurunan sentimen dari dunia usaha mengenai insentif fiskal. Pada kuartal IV-2025, pengusaha yakin terhadap insentif fiskal yang tepat. Tapi, keyakinan itu menurun menjadi 5,2% dari sebelumnya sebesar 19,9%.
“Tidak tepat yang kita maksudkan di sini adalah pada dasarnya harus ada perubahan yang lebih adaptif terkait insentif fiskal,” kata Direktur Insight Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian saat menyampaikan survei persepsi dunia usaha oleh Kadin Indonesia, di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Fakhrul mencontohkan, insentif yang perlu diperbaiki dan diperluasan di antaranya insentif fiskal untuk mobil listrik. Di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibatperang AS-Israel versus Iran, insentif mobil listrik perlu digenjot.
“Mengapa tidak mengakselerasi penggunaan mobil listrik untuk menurunkan polusi dan mengakselerasi sustainable ekonomi dan green economy?!” ujar dia.
Baca Juga
Bertemu Dubes Republik Cile, Kadin Fokuskan Potensi Impor Ternak Hidup untuk MBG
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, selain insentif, dunia usaha membutuhkan bantalan untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global saat ini. Sektor perbankan, misalnya, perlu memberikan kelonggaran ketentuan pembayaran cicilan kredit (term of payment) dan keringanan kredit kepada pengusaha.
Dengan dukungan kedua hal tersebut, Anindya yakin pelaku usaha dapat menjaga arus kas hingga enam bulan mendatang tanpa mengubah tanggung jawab terhadap utang dan lain-lain. “Bagaimana short term challenges ini bisa dilalui dengan memberikan suatu fleksibilitas dari sisi cashflow. Saya rasa itu yang paling penting,” tegas Anindya.
Anindya menjelaskan, kelonggaran mendapatkan modal kerja akan membuat pelaku usaha dapat tetap ekspansif. “Investasi merupakan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi kita, termasuk dalam kaitannya dengan hilirisasi,” tutur dia.

