Dorong ‘Compliance’ di Perbankan Digital, Bayu Prawira Luncurkan Buku ‘AI for Bankers’
Poin Penting
|
NUSA DUA, investortrust.id – Pemimpin bank digital perlu memperhatikan berbagai aspek terkait perkembangan teknologi digital dan AI, agar bisa relevan dalam industri perbankan yang terus berkembang. Hal itu disampaikan Bayu Prawira, Direktur Intellectual Business Community (IBC), pada peluncuran Buku ‘AI for Bankers’ di Sofitel Nusa Dua, Bali, Jumat (12/9/2025).
Baca Juga
Konferensi Backbase Asia Pacific 2025 Digelar di Bali, Penerapan AI Perbankan Jadi Sorotan
Sebagai pemerhati digital risk governance, Bayu menekankan bahwa AI harus diimplementasikan dengan disiplin yang kuat: pemilihan use case yang tepat, data governance yang matang, MLOps (Machine Learning Operations) yang terstandar, serta tata kelola dan etika yang sesuai regulasi. Pendekatan inilah yang menjadi inti dalam bukunya, yang disebut sebagai “panduan wajib” untuk para pemimpin bank di Indonesia.
Buku AI for Bankers membahas secara mendalam bagaimana AI sedang mengubah industri perbankan, mulai dari dampak AI terhadap operasional bank, dampak pada pelayanan nasabah, strategi SDM, dampak regulasi dan kebijakan terbaru terhadap penerapan AI.
Menurut Bayu, pemimpin juga harus berperan sebagai penjaga kepentingan antara efisiensi teknologi dan kebutuhan layanan manusia yang masih dirasa penting bagi sebagian nasabah, agar pergeseran yang terjadi sesuai dengan perubahan yang diinginkan oleh nasabah, serta menghindari gejolak internal.
"Ditambah lagi, dengan makin bergesernya layanan perbankan dari layanan konvensional ke layanan digital, muncul peraturan-peraturan dari otoritas keuangan mengenai operasional perbankan yang banyak mencakup tentang istilah dan pengertian teknologi digital," katanya.
Tidaklah mengejutkan jika nanti pengertian tentang teknologi digital dan AI akan masuk dalam penilaian di fit and proper test pemimpin bank untuk dapat direstui otoritas..
Baca Juga
Celios Sebut Bank Digital Perlu Sejumlah Dorongan untuk Pastikan Inovasi Terus Berjalan
Dengan perubahan lanskap tersebut, bukan saja tantangan eksternal yang dihadirkan oleh kebutuhan nasabah, tetapi juga tantangan internal, yaitu bagaimana memimpin human resources dalam bank. Kemampuan yang harus dikembangkan oleh karyawan yang dipimpin, komposisi keahlian anggota tim. Dan yang paling berat, menurut dia, adalah menentukan mana anggota tim yang harus dilepas karena fungsinya sudah digantikan oleh AI dengan lebih baik.
Tantangan
Peluncuran buku diikuti dengan diskusi roundtable eksklusif bersama 32 bankir nasional, termasuk perwakilan dari bank-bank besar BUMN, swasta, syariah, hingga BPD. Tampil sebagai pembicara, Bayu Prawira selaku penulis buku AI for Bankers, Tim Rutten, Chief Marketing Officer Backbase, dan Sachin Gopalan, Founder & CEO of Indonesia Economic Forum.
Baca Juga
Bank Digital Menjamur, OJK Ingatkan Pentingnya Resiliensi di Era Digital
Dalam diskusi mengemuka bahwa apa pun yang dilakukan, seharusnya membawa kemaslahatan kepada manusia, baik sebagai nasabah, pegawai, investor dan lainnya, bukan hanya pertimbangan finansial. Sehingga walaupun fokus cara bisnis bergeser ke AI, tetap perlu memperjuangkan kepentingan manusia. Selain itu, secara teknis, tantangan seperti privasi data, keamanan siber dan potensi bias algoritma menjadi perhatian utama yang harus diatasi agar adopsi AI dalam perbankan dapat berjalan dengan lancar.
Pemahaman tentang Core Banking System juga merupakan kemampuan konsep teknis yang diperlukan oleh setiap pemimpin bank. Integrasi dengan kemajuan digital lainnya, seperti blockchain, cloud computing, superapps dll perlu dikuasai juga konsepnya.
Dengan memahami hal-hal ini secara komprehensif, menurut Bayu, para pemimpin bank dapat memanfaatkan teknologi AI untuk menciptakan nilai baru, meningkatkan efisiensi, mengelola risiko, dan tetap bisa memimpin anggota tim agar relevan dalam dunia yang terus berubah.

