Wamenekraf Bantah Pemerintah Beri Dana untuk Film "Merah Putih: One For All"
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar, meluruskan polemik seputar film Merah Putih: One For All yang ramai dibicarakan publik. Ia menegaskan, pemerintah tidak memberikan dukungan finansial maupun promosi terhadap produksi film tersebut.
“Pertama, film itu tidak menggunakan dana APBN. Jadi dukungan itu ada finansial dan non-finansial. Finansial, tidak kita berikan. Kedua, dukungan promosi juga tidak ada,” kata Irene saat ditemui di Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Irene menjelaskan, satu-satunya bentuk interaksi antara Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) dengan pihak pembuat film adalah audiensi selama 23–24 menit. Dalam pertemuan itu, tim produksi memaparkan konsep dan mendapat masukan kritis yang membangun dari pihak kementerian.
“Yang penting membangun dan kritis. Nggak ada yang negatif atau positif. Setelah itu, kita serahkan ke market,” jelasnya terkait pertemuan tersebut.
Menyoal alasan kenapa film animasi 'kejar tayang' itu bisa tayang di jaringan bioskop nasional, Irene menegaskan hal itu sepenuhnya keputusan pihak swasta.
“Kayaknya pertanyaannya bukan ke pemerintah. Itu (bioskop) bukan perusahaan pemerintah, itu swasta. Proses decision making itu nggak boleh kita intervensi,” jelasnya.
Irene menambahkan, pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk memaksa atau menghalangi keputusan bisnis pihak swasta. Ia juga membantah kabar adanya 'surat sakti' dari pemerintah yang memuluskan penayangan film tersebut.
“Kalau kita mengintervensi, berarti kita mengintervensi usaha, bisnis. Nggak ada surat sakti. Dukungan finansial nggak ada. Dukungan promosi juga nggak ada,” tegasnya.
Wamenekraf sendiri berharap isu yang berkembang liar di masyarakat dapat diluruskan. “I hope ini cukup clear,” tegasnya.
Diketahui publik sebelumnya menyoroti secara teknis film Merah Putih: One For All yang produksinya menghabiskan anggaran Rp 6,7 miliar. Kualitas gambar dinilai kurang rapi, hingga penggambaran karakter film yang dianggap kurang realistik.
Publik kemudian membandingkan dengan film Jumbo yang menampilkan kualitas lebih baik dibanding Merah Putih: One For All yang dikerjakan tidak sampai tiga bulan.

