Belajar Dari Kasus Mike Maignan, Serie A Bakal Lebih Keras Terhadap Pelaku Rasialisme
ROMA, investortrust.id – Insiden pelecehan rasial yang menimpa Mike Maignan pada pertandingan AC Milan melawan Udinese, pekan lalu, membuat otoritas sepak bola tersadar. Kini, mereka sedang mencari cara agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Pada pertandingan Serie A di kandang Udinese, Bluenergy Stadium, Minggu (21/01/2024) dini hari WIB, Mike Maignan mendapatkan Tindakan kurang terpuji. Lalu, bersama pemain AC Milan lainnya, dia meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Permainan kemudian dihentikan selama beberapa menit.
Udinese diperintahkan untuk memainkan satu pertandingan Serie A secara tertutup. Tapi, mereka mengajukan banding atas keputusan tersebut. Mereka beralasan sudah menghukum sang pelaku dengan larangan datang ke stadion seumur hidup.
Untuk menindaklanjuti kejadian itu, FIGC bertemu dengan pejabat Pemerintah Italia untuk membahas cara terbaik untuk memberantas rasialisme di stadion. Mereka memperingatkan bahwa fokusnya harus pada mengidentifikasi pelaku rasialis dan bukan menghukum seluruh klub.
Baca Juga
Mario Balotelli Bakal Mudik ke Italia di Jendela Transfer Januari? Agennya Bilang Begini
Presiden FIGC Gabriele Gravina bertemu dengan perwakilan pemerintah di Roma dan mencoba mencari cara terbaik untuk menekan tindakan rasialis di tribun penonton. “Hukum Italia termasuk yang paling parah di kancah internasional,” ujar Gabriele Gravina, dilansir Football Italia.
Beda dengan Inggris yang punya hukum jelas, masalah peraturan antirasialisme di sepak bola Italia masih abu-abu. Pasalnya, wasit sendiri tidak bisa memutuskan pembatalan pertandingan di Italia karena harus berkonsultasi terlebih dulu dengan otoritas setempat yang bertanggung jawab atas keamanan. Sebab, hal itu berisiko terhadap ketertiban umum.
Itu beda dengan Inggris. Di Liga Premier, wasit punya otoritas mutlak untuk membatalkan pertandingan jika ada tindakan rasialisme di lapangan tanpa harus berkonsultasi dengan apparat keamanan.
“Itu (aturan antirasialisme di lapangan) sudah tertulis dalam protocol. Tapi, sangat sulit untuk menerapkan keputusan itu,” pungkas Gabriele Gravina.
Baca Juga
Perkuat Lini Tengah, Newcastle United Bidik Pierre-Emile Hojbjerg dari Tottenham Hotspur

