Lentog Kudus, Masakan Yang Muncul Bersama Dakwah Islam
Masyarakat di luar Kudus sudah pasti paham dengan Soto Kudus sebagai kuliner andalan kota Kretek, Kudus. Tetapi ada satu lagi makanan khas Kudus yang melegenda dan disukai semua kalangan untuk sarapan, namanya Lentog. Lentog terdiri dari lontong yang dibungkus dengan daun pisang tetapi ukurannya besar, diameter mencapai 10-14cm dan panjangnya lebih dari 20cm. Satu lontong besar itu bisa diiris untuk beberapa piring. Kemudian ditambah dengan sayur nangka atau lodeh nangka, kotokan tahu dan tempe dan ditaburi bawang goreng. Kotokan adalah masakan dengan santan dan bumbu bumbu kemudian dicampur dengan tahu dan tempe. Sambalnya pun khas, yaitu cabai hijau yang direbus dan bisa dikunyah atau digencet langsung pada piring. Rasanya gurih dan nikmat, seperti makan nasi lodeh nangka dan lauk tahu tempe. Penjual Lentog juga menyajikan lauk tambahan seperti bakwan, sate telur puyuh, telur bacem dan berbagai jenis krupuk.
Pada awal kemunculannya, Lentog dijual berkeliling dengan pikulan dan keranjang bambu di kanan kiri. Asal mula Lentog berawal di desa Tanjung, Kecamatan Jati, Kudus. Dahulu kala warga dari pusat kota Kudus sering menikmati Lentog pagi pagi sekali di tepi sawah di desa Tanjung. Suasananya masih sejuk dan bercampur dengan aroma khas sawah dan ditingkahi aroma kayu bakar. Penduduk desa dulu memasak Lentog menggunakan kayu bakar sehingga rasanya lebih khas.
Sejarah Lentog diyakini berkaitan dengan kegiatan dakwah Islam di Kudus. Mitos yang berkembang, jaman dahulu kala, seorang wali ingin membangun masjid tanpa menimbulkan kegaduhan untuk menghormati pengaruh kerajaan Hindu. Karena itu sang Wali (tidak ada sumber sejarah yang jelas menerangkan siapa nama sang Wali ini) menyuruh santrinya untuk mengumpulkan bahan bahan kayu dari desa Tanjung dan membawanya ke Kauman, di pusat kota Kudus pada tengah malam hingga menjelang subuh. Beberapa hari bekerja, para santri tanpa halangan melakukan pengumpulan kayu dengan lancar. Hingga suatu hari para santri kembali lebih awal ke pesantren padahal waktu itu belum waktunya bedug subuh. Mereka kembali tanpa membawa bahan baku kayu. Terkejut, sang Wali bertanya kepada santrinya, mengapa mereka kembali lebih cepat dan tidak membawa kayu satu pun. Para santri menjawab bahwa mereka mendengar suara seperti benda yang dipukul pukul seperti bedug subuh dan memutuskan kembali untuk beribadah sholat subuh di pesantren.
Sang Wali pun menyelidiki hal ini dan kemudian mengetahui bahwa ada pedagang nasi yang memasak hingga larut malam kemudian memukul mukul saringan nasi dengan keras sehingga terdengar seperti bedug subuh. Sang Wali pun memberi tahu pedagang nasi di Desa Tanjung itu: “Nek ono rejo-rejone jaman. Wong Tanjung ojo ono sing dodolan sego, mergo ngganggu pembangunan” yang artinya kira-kira, "Kalau nanti di masa sejahtera, warga desa Tanjung jangan ada yang berjualan nasi, sebab mengganggu pembangunan."
Dari ucapan di atas, tampak bahwa Sang Wali melarang warga Desa Tanjung untuk berjualan nasi (bahasa Jawa: sego). Himbauan dari sang Wali tersebut seperti menjadi petuah yang ditaati warag desa Tanjung hingga kini dan mereka mengganti nasi dengan lontong.

