Melongok Proses Produksi Jenang Kudus
JAKARTA, investortrust.id – Jenang Kudus adalah penganan khas kota Kudus yang telah banyak dikenal sebagai makanan kecil yang manis, kenyal dan enak. Banyak yang berpendapat makanan kecil ini mirip dengan dodol Garut. Serupa tapi tak sama, ada perbedaan antara Jenang Kudus dengan dodol Garut. Jenang Kudus memiliki tekstur yang kenyal, lembut dan lengket. Rasanya manis gurih dan di masa kini, aroma Jenang memiliki beragam rasa seperti rasa durian, mocca, coklat, choco pandan atau vanila. Sementara dodol Garut memiliki tekstur yang lebih kering dan crunchy di bagian luar tetapi lembut di bagian dalam.
Bahan utama Jenang Kudus adalah tepung ketan, santan, gula merah, gula pasir, dan garam. Jika dilihat dari komposisi bahannya memang nampak sederhana, tapi proses pembuatannya sangat rumit dan butuh kesabaran ekstra agar jenang bisa dihidangkan dengan sempurna. Untuk menghasilkan jenang Kudus yang berkualitas prosesnya panjang. Butuh waktu 7 hingga 8 jam untuk proses pengadukan adonan jenang sampai benar-benar kalis dan meninggalkan sedikit minyak. Investortrust berkesempatan melihat dapur dari sebuah usaha Jenang Kudus di desa Kaliputu, sebuah desa yang juga menjadi titik sejarah Jenang di kota Kudus.
Jenang Kudus Menara telah berdiri sejak tahun 1989. Meski lebih muda usianya dari Jenang Kudus Mubarok atau Sinar Tiga Tiga yang lebih dulu terkenal, tetapi dari rasa, Jenang Kudus Menara tidak kalah bersaing. Di Jl R.M. Sosrokartono ini terdapat tiga toko Jenang sekaligus home industry yang bergerak di bidang kuliner oleh-oleh Jenang. Di dapur milik Jenang Kudus Menara ini terdapat tiga tungku yang aktif ketika Investortrust datang berkunjung. Satu dari dua tungku tersebut digerakkan oleh mesin meskipun bahan bakarnya sama dengan tungku yang diaduk secara manual oleh tenaga manusia. Jenang Kudus Menara menggunakan bahan bakar kayu untuk menjaga cita rasa Jenang tradisional. Tepung ketan, santan, air, gula merah, gula pasir dan garam dituang ke sebuah wadah besar seperti wajan yang diletakkan di atas tungku dengan api yang cukup besar. Kemudian adonan tersebut diaduk secara perlahan, konstan dan terus menerus selama 7 hingga 8 jam sampai mencapai tingkat kekentalan tertentu. Di sinilah keahlian pengaduk adonan menjadi tolok ukur pas tidaknya kekenyalan jenang yang akan dihasilkan nanti. Karena memerlukan tenaga yang sangat kuat dan cukup lama, pengaduk adonan Jenang dikerjakan oleh tenaga laki-laki.

