Menilik Pesona Candi Borobudur
JAKARTA, investortrust.id - Pagi yang cerah itu, Minggu (19/11) lebih dari 10.000 pelari dari 24 negara berkumpul di Kompleks Taman Lumbini, Candi Borobudur untuk mengikuti Borobudur Marathon 2023. Sebagai penggemar jalan-jalan, saya tidak bisa melewatkan kesempatan untuk menjelajahi keindahan wisata ini, meskipun tidak ikut agenda maraon.
“Pernah jalan-jalan di sekeliling Candi Borobudur?” teman saya, Amel, bertanya ketika saya masuk ke dalam mobilnya pagi itu di Magelang, Jawa Tengah. “Sudah lima kali saya datang ke Candi Borobudur,” jawabku mengakui, “tetapi ini adalah pertama kalinya saya menjelajahi kaki bukit di sekitarnya.”
Baca Juga
Diikuti Lebih dari 10.000 Pelari, Borobudur Marathon 2023 Berakhir Meriah
Borobudur, kuil Buddha terbesar di dunia, terletak di tengah lembah dengan kaki bukit dan pegunungan yang melindunginya dari segala sisi; Gunung Merapi dan Merbabu mengawasi dari Timur Laut, Gunung Sumbing dan Sundoro dari Barat Laut, serta perbukitan Menoreh dari Selatan. Sungguh menciptakan suasana spiritual yang memukau.
Selain menawarkan keajaiban arsitektur dan keagungan budaya, tempat ini juga menyimpan nilai sejarah yang kaya, menjadi rumah bagi agama Hindu-Budha era Majapahit yang masih hidup dan berkembang hingga saat ini.
Salah satu cara paling menyenangkan sekaligus menyehatkan untuk berwisata di Lembah Borobudur adalah dengan bersepeda. Sebagian besar hotel dan homestay menawarkan persewaan sepeda dengan harga yang sangat wajar. Cukup ikuti perjalanan yang tenang melintasi desa-desa dan persawahan setempat, lalu nikmati pemandangan yang ditawarkan oleh jalan yang teduh dan berkelok-kelok.
Saya dibawa berkeliling oleh Amel melalui jalan desa yang menakjubkan, menyaksikan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa yang masih sangat terhubung dengan pertanian mereka.
Desa-desa kecil dan sawah hijau yang berliku-liku memberikan pemandangan indah dan kemudian membawa kami ke Borobudur yang megah, menjulang di cakrawala pagi. Pemandangan ini dan sapaan hangat dari penduduk lokal, sungguh mempesona dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan.
Saya bisa membayangkan pemandangan ini tidak banyak berubah sejak Kerajaan Majapahit tempat awal kuil ini ‘dilahirkan’. Sebuah kereta kuda (andong) bergemerincing melewati kami saat saya berdiri di pinggir jalan mengambil foto candi, dan rasanya sungguh seperti meskipun kita telah melakukan perjalanan kembali ke masa lalu.
Setelah menikmati keindahan lembah, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat yang tak kalah menakjubkan, yaitu rumah seni Elprogo. Legenda mengatakan bahwa sungai Elo adalah sungai perempuan dan sungai Progo adalah sungai laki-laki, dan persatuan mereka melambangkan ikatan abadi antara seorang pria dan seorang wanita dalam perkawinan.
Di sini, saya bertemu dengan Sony, seorang seniman eksentrik yang memiliki rumah seni unik di tepi sungai. Saat keluar dari mobil, saya disambut oleh angin sejuk di bawah naungan salah satu pohon Bodhi – jenis pohon yang sama tempat Siddhartha Gautama bermeditasi dan mencapai pencerahan, menjadi Buddha.
Baca Juga
Nikmati Healing di HeHa Ocean View, Beach Club yang Hits di Yogyakarta
Bahkan jika kalian tidak tertarik untuk belajar melukis, tempat ini cocok untuk dikunjungi dan menikmati secangkir kopi lokal yang bertengger di atas salah satu bangku di tepi jurang, menghadap ke putihnya air sungai di bawahnya.
Saat matahari mulai turun, perjalanan kami dilanjutkan ke Candi Mendut yang tidak terlalu jauh dari Candi Borobudur. Dikutip dari informasi yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Candi Mendut, pada 1836, ditemukan dalam kondisi tertimbun oleh tanah dan tersembunyi di tengah semak belukar.
Usia Candi Mendut diperkirakan lebih tua atau satu zaman dengan Candi Borobudur, diyakini dibangun pada masa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Dibuat dari batu andesit dan bata, candi ini memperlihatkan relief-relief yang memuat ajaran agama Buddha.
Hingga saat ini, Candi Mendut tetap menjadi tempat sering dikunjungi oleh umat Buddha dan sering menjadi lokasi upacara keagamaan Buddha. Saya membayar biaya sebesar Rp 10.500 untuk masuk, dan menempatkan diri untuk duduk di bawah pohon beringin raksasa yang menjulang di atas candi sederhana ini.
Baca Juga
Meskipun saya pernah mengunjunginya sebelumnya, Amel mengajak mengunjungi Biara Buddha di belakang candi tersebut. Biara yang tenang ini, dikelilingi oleh pohon-pohon Bodhi, menghadirkan suasana yang damai dan penuh spiritualitas. Di dalamnya, patung-patung Buddha yang khas dan ruang meditasi menjadi daya tarik yang mengesankan. Saya sadar bahwa tidak peduli berapa kali pun mengunjungi tempat ini lagi di masa depan, tempat ini tidak akan pernah berhenti mengejutkan saya.
Perjalanan ini tidak hanya memberikan pemandangan yang luar biasa, tapi juga mengungkapkan sisi spiritual dan sejarah yang kaya dari tempat ini. Dari keindahan candi hingga kedalaman spiritual biara, Borobudur dan sekitarnya memiliki daya tarik yang tak pernah pudar. Dan untuk menyempurnakan pengalaman ini, kami mencicipi hidangan khas daerah Magelang, kupat tahu di warung setempat menjadi penutup yang sempurna.

